3 Bom Berantai di Afganistan Selama September

Harakatuna

22/09/2019

3
Min Read

On This Post

Harakatuna.com. Afganistan – Perselisihan Afganistan dengan musuh-musuhnya tidak kunjung berakhir. Setalah 5 hari lalu terjadi ledakan besar di momentum kampanye Netanyahu, kemrin kembali terjadi pengeboman besar di sekitar rumah sakit kota Qalat, wilayah selatan Afganistan.

Kemarin sore Afganistan di bombardir oleh Taliban. Serangan bom terbaru ini diklaim sebagai langkah perlawanan Taliban pembunuhan petugas intelejennya di Afganistan. Juru bicara Taliban Qari Yousuf Ahmadi, menegaskan ada oknum Amerika Serikat (AS) yang menyerang Direktorat Keamanan Nasional Taliban.

Nangarhar Pir Mohammad (22 tahun) mengatakan kepada AFP, saat terjadi serangan, para pekerja datang dari provinsi lain untuk memetik kacang pinus dan tengah tertidur di tenda mereka. “Banyak teman kami meninggal tanpa alasan dan puluhan lainnya terluka,” katanya di sebuah rumah sakit di Jalalabad, tempat ia dirawat karena luka-luka pecahan bom.

Sedikitnya 30 petani dan buruh tani yang baru saja selesai memanen kacang tewas dalam sebuah serangan drone milik Amerika Serikat yang ingin mengincar anggota kelompok radikal Islamic State (ISIS). Serangan pada 19 September 2019 itu menambah panjang daftar serangan mematikan di Afganistan sepanjang tahun ini.

Menurut Reuters, drone menyerang pegunungan Wazir Tangi di wilayah timur provinsi Nangarhar, Afganistan. Selain korban tewas, sebanyak 40 orang lainnya dilaporkan mengalami luka-luka.

Berikut tiga serangan mematikan di Afganistan sepanjang September 2019:

1. Serangan bom di Kedutaan Besar Amerika Serikat

Kelompok radikal Taliban mengklaim bertanggun jawab atas serangan di dekat kantor Kedutaan Besar Amerika Serikat di ibu kota Kabul, Afganistan pada Kamis malam, 5 September 2019. Dalam serangan itu, 10 warga sipil tewas, termasuk diantaranya tentara Amerika Serikat dan Romania.

Dikutip dari aljazeera.com, serangan itu dilakukan lewat bom mobil yang meledak ketika berada dekat sebuah area yang dikelilingi benteng di kota Kabul, Afganistan. Serangan ini membuat Presiden Amerika Serikat Donald Trump marah sehingga membatalkan rencana perundingan damai dengan Taliban.

2. Bom bunuh diri di kampanye presiden

Situs vox.com pada 17 September 2019 mewartakan kelompok radikal Taliban mengklaim bertanggung jawab atas dua serangan bom bunuh diri menewaskan setidaknya 40 orang dan puluhan luka-luka.

Ledakan dua bom yang terjadi bersamaan itu, diledakkan dalam sebuah iring-iringan kampanye Presiden Afganistan Ashraf Ghani atau lebih dari sepekan setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan perundingan damai dengan Taliban sudah tutup buku.

3. Bom di rumah sakit

Rumah sakit pun ironisnya menjadi sasaran serangan bom. Situs military.com pada Kamis, 19 September 2019 mewartakan pada Kamis pagi itu terjadi sebuah serangan bom bunuh diri dengan menggunakan sebuah mobil truk.

Rumah sakit di kota Qalat, wilayah selatan Afganistan, menjadi sasaran bom bunuh diri itu. Jumlah korban tewas lebih dari 20 orang dan melukai lebih dari 90 orang. Kelompok radikal Taliban mengklaim bertanggung jawab atas serangan bom bunuh diri ini.

Related Post