Harakatuna.com – Ide sering kali berkait kelindan dengan dunia kreativitas. Ide merupakan motor penggerak dari segala sesuatu. Tanpa adanya ide mustahil akan muncul inovasi dalam kehidupan kita saat ini, atau tak mungkin ada produk tekonologi baru yang bisa membantu meringankan dan memudahkan pekerjaan manusia, misalnya.
Dalam konteks dunia kepenulisan, ide merupakan hal paling pokok untuk bisa menciptakan sesuatu; untuk menulis. Bagaimana suatu cerita itu ditulis, dan bagaimana cara menyelesaikannya, semua itu pasti akan berawal dari ide. Ide bisa merupakan ide besar maupun kecil. Ide yang sederhana dapat diulis dengan teknik dan cara-cara yang kompleks. Atau ide yang besar dan kompleks dapat ditulis dengan cara yang sederhana. Tergantung kepentingan dan kebutuhan.
Ide sebenarnya selalu bisa kita temukan di mana saja, di sawah, di kebun, di jalan, di gerbong kereta, di got, di genangan comberan, di parkiran, di pusat perbelanjaan, di pasar, atau bahkan di kakus kita sendiri. Ide selalu berkeliaran di mana-mana. Hanya saja apakah lahir dan batin kita sudah siap untuk menangkap ide itu?
Sehingga sebanyak apapun ide bertebaran di depan mata kepala kita sendiri, tapi seringkali kita tidak selalu bisa menangkap, tidak selalu bisa mengeksekusinya. Kita hanya bisa merasakannya, meraba-rabanya, tanpa pernah benar-benar menangkapnya, karena sebenarnya lahir dan batin kita saja yang belum siap untuk menerima dan menangkap ide itu. Lalu bagaimana cara menangkap ide? Yakni tentu saja dengan cara mencatatnya.
Mari kita ibaratkan ide sebagai seekor hewan liar, atau hewan buruan yang mesti dikendalikan, dijinakkan atau bahkan diburu. Namun tentu saja kita sebagai seorang gembala atau seorang pemburu harus bisa memahami bagaimana cara paling efektif untuk menangkap ide.
Menulis catatan adalah salah satu cara paling ampuh untuk menangkap ide itu. Sebuah ide yang melintas di benak kita, kemudian kita mencatatnya sudah barang tentu akan tertulis di sana selamanya. Verba volant, scripta manen, kan begitu pepatah mengatakan, bahwa apa yang dikatakan akan menghilang tapi apa yang dicatat atau ditulis akan tetap menetap di sana untuk selamanya. Tentu saja selama tulisan itu tercatat dan dibaca.
Begitulah ide kemudian dicatat untuk kemudian dieksekusi. Menangkap ide sebenarnya hampir sama dengan menangkap momen. Karena di dalam dua hal tersebut terdapat kesamaan dalam kedatangannya. Maksudnya, datangnya sebuah ide dan momen itu hampir berdekatan. Ketika kita mengalami sebuah momen, ide-ide entah mengapa tiba-tiba bertebaran, dan akhirnya hanya tinggal kita saja sebagai seorang penggembala atau pemburu yang memiliki kemampuan untuk menjinakkan ide dan menangkapnnya atau tidak.
Dan mencatat menjadi salah satu senjata andalan bagi para penulis untuk menangkap idenya. Lalu kemudian ide itu bisa dikembangkan ataupun dieksekusi saat itu juga. Jadi memang harus begitulah seorang penulis, sebelum ia bisa menulis segala tulisannya, sebelum ia menyelesaikan segala karyanya, ia sudah lebih dulu selesai dengan idenya.
Tanpa ide penulis yang menulis karyanya hanyalah merupakan cangkang kosong tanpa isi. Karena bagaimana pun ide adalah salah satu komponen paling penting dalam sebuah karya. Karena hal ini merupakan pokok dari segala tulisan yang ditulis oleh seorang penulis. Tanpa ide pokok memangnya apa yang mau ditulis oleh seorang penulis? Ah iya menulis tentang seorang penulis yang tidak memiliki ide. Nah kan ide lagi
Ide merupakah entitas yang akan menggerakan sebuah tulisan, karya, atau cerita yang tengah digarap oleh seorang penulis. Tanpa ide mustahil sebuah cerita misalnya, ia akan bergerak dengan sendirinya, kecuali ide itu sudah ada di benak atau kepala seorang penulis. Penulis mungkin saja tidak selalu mengawali sebuah tulisannya dengan ide. Akan tetapi penulis sudah barang tentu akan memasukkan ide-idenya ke dalam tulisan yang tengah ia garap tersebut.
Jadi peranan ide ini tidak kalah vital dengan cara atau teknik menulis itu sendiri. Ketika kita sudah mengetahui cara menangkap ide dan menjeratnya yakni dengan cara mencatatnya atau menuliskannya. Maka tugas kita sekarang sebagai seorang penulis adalah mengeksekusinya. Menghadirkannya ke dalam tulisan kita.
Sebuah ide sebesar apapun tanpa pernah kita tuangkan, tanpa pernah kita kembangkan, dan tanpa pernah mau kita kemukakan, takkan mungkin ide itu akan benar-benar terealisasi dengan baik. Setelah memiliki ide dan menangkap ide, seorang penulis juga harus segera mengeksekusi ide itu menjadi sebuah karya.
Entah itu sebuah puisi, esai atau cerpen, atatu bahkan novel. Seorang penulis perlahan-lahan mulai mengerjakan ide yang sudah ia dapatkan tadi. Karena jika tidak ide itu hanya akan menjadi ide, dan mungkin saja perlahan akan menguap dan hilang dengan sendirinya. Entah karena dilupakan atau memang karena ide itu sudah tidak relevan.
Ide menjadi salah satu tulang punggung cerita yang mesti diperlakukan dengan baik, karena jika tidak begitu yang terjadi kemudian hanyalah bentuk racauan dari seorang penulis yang tak pernah benar-benar menghasilkan ide yang brilian. Sebuah ide tanpa pernah menuliskannya sama saja dengan sebuah konsep yang hanya ada di kepala kita sendiri, tanpa pernah kita mau mewujudkannya menjadi sebuah kenyataan.
Sifat ide adalah abstrak, dan menulis adalah upaya untuk memberikannya sebuah bentuagar ia maujud dan muncul ke permukaan dunia ini. Maka ia harus ditulis dan diselesaikan terlebih dahulu sebelum kemudian ia bisa dinikmati dan dikonsumsi oleh pembaca kita. Jadi ide pada akhirnya adalah gerbang awal untuk menentukan apakah sebuah tulisan itu layak untuk dibaca atau mungkin ditinggalkan sama sekali. Maka itu adalah tugas pembaca, tugas penulis hanyalah menuliskannya.








Leave a Comment