Ancaman Terorisme di Ruang Digital, Pemuda Lampung Diminta Waspada

Ahmad Fairozi, M.Hum.

14/03/2026

3
Min Read
Ancaman Terorisme di Ruang Digital, Pemuda Lampung Diminta Waspada
Ancaman Terorisme di Ruang Digital, Pemuda Lampung Diminta Waspada

Harakatuna.com. Bandar Lampung – Kalangan pemuda di Kota Bandar Lampung didorong untuk tidak sekadar menjadi objek kegiatan sosial, tetapi berperan sebagai aktor utama dalam merumuskan gagasan terkait perdamaian dan keamanan sosial. Hal itu mengemuka dalam kegiatan dialog lintas komunitas bertajuk “Suara Muda untuk Kota Damai” yang digelar di Gedung Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Lampung, Kamis (12/3/2026).

Kegiatan tersebut diinisiasi oleh Lamban PuAn bersama FISIP Universitas Lampung dan Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN). Forum ini juga menjadi bagian dari program Community Action Grant for Youth, Peace and Security (YPS) yang mendorong keterlibatan aktif generasi muda dalam isu perdamaian.

Ketua Pelaksana Lamban PuAn, Intan Rahma, mengatakan Kota Bandar Lampung, khususnya kawasan Rajabasa, merupakan wilayah yang mempertemukan berbagai latar belakang sosial, budaya, dan agama. Kondisi tersebut menempatkan pemuda pada posisi strategis untuk menjaga kohesi sosial di tengah keberagaman.

Namun, ia menilai ruang partisipasi pemuda dalam isu perdamaian selama ini masih terbatas dan belum terorganisasi secara kolektif. “Selama ini pemuda lebih sering diposisikan sebagai peserta kegiatan, bukan sebagai aktor utama dalam perumusan gagasan maupun advokasi kebijakan terkait keamanan sosial dan perdamaian,” ujar Intan dalam dialog tersebut.

Ancaman Radikalisme terhadap Generasi Muda

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Bidang Pemuda dan Pendidikan Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Lampung, Ken Setiawan, mengingatkan adanya pola penyebaran paham radikal yang semakin menyasar kalangan generasi muda.

Menurut Ken, kelompok radikal kerap memanfaatkan konsep keagamaan seperti iman, ibadah, hingga zakat untuk membangun militansi di kalangan pengikutnya. Ia bahkan mengungkap kasus di mana seorang mahasiswa menipu orang tuanya sendiri demi menyetorkan uang dalam jumlah besar kepada jaringan radikal.

“Konsep yang sering digunakan kelompok radikal adalah jika mereka tidak memiliki musuh, maka mereka akan menciptakan musuh. Loyalitas terhadap kelompok disebut sebagai pembelaan agama, sementara orang di luar kelompok dianggap sebagai lawan,” kata Ken.

Selain melalui pertemuan langsung, penyebaran ideologi ekstrem juga terjadi di ruang digital. Ken menyebutkan bahwa sejumlah jaringan radikal kini terhubung dengan komunitas internasional yang membawa ideologi ekstrem, termasuk jaringan yang berkaitan dengan paham white supremacy.

Secara nasional, kata dia, lebih dari seratus remaja terdeteksi pernah terpapar ideologi ekstrem, dan beberapa di antaranya berasal dari wilayah Lampung. Modus penyebarannya pun semakin beragam, mulai dari komunikasi melalui gim daring hingga forum ilegal di internet yang membahas hal-hal berbahaya, termasuk pembuatan bahan peledak.

“Ada anak-anak yang bahkan sudah memotret kantor polisi dan markas tentara untuk rencana aksi. Mereka berkomunikasi melalui gim daring dan forum ilegal,” ungkapnya.

Ken menegaskan bahwa upaya pencegahan radikalisme tidak hanya mengandalkan pendekatan keamanan, tetapi juga memerlukan penguatan nilai kemanusiaan serta literasi kritis di kalangan generasi muda.

Menurutnya, pemahaman keagamaan yang sehat harus mampu menghadirkan nilai-nilai ketuhanan yang inklusif dalam kehidupan sosial. “Esensi beragama bukan soal siapa yang paling keras berteriak, melainkan bagaimana menghadirkan nilai ketuhanan dalam kehidupan yang menghargai kemanusiaan dan keberagaman,” ujar Ken.

Melalui dialog lintas komunitas tersebut, para peserta diharapkan dapat memperkuat peran pemuda sebagai agen perdamaian sekaligus membangun kesadaran kolektif untuk menjaga keamanan sosial di tengah dinamika masyarakat yang semakin kompleks.

Leave a Comment

Related Post