Bom Rakitan Dilempar ke Arah Massa di Depan Rumah Wali Kota New York, Dua Pelaku Terinspirasi ISIS

Ahmad Fairozi, M.Hum.

09/03/2026

3
Min Read
Bom Rakitan Dilempar ke Arah Massa di Depan Rumah Wali Kota New York, Dua Pelaku Terinspirasi ISIS

Harakatuna.com. New York – Situasi di depan kediaman resmi Wali Kota New York City, Gracie Mansion, mendadak mencekam pada Sabtu waktu setempat setelah sebuah bom rakitan dilemparkan ke arah kerumunan massa yang tengah berunjuk rasa. Insiden tersebut terjadi di tengah ketegangan antara dua kelompok demonstran yang saling berseberangan.

Kepolisian New York atau New York Police Department (NYPD) mengonfirmasi bahwa perangkat yang dilemparkan merupakan improvised explosive device (IED) atau bom rakitan yang berpotensi menimbulkan korban serius.

Menurut aparat penegak hukum, dua pria telah diamankan terkait peristiwa tersebut. Sumber kepolisian yang dikutip CNN menyebutkan bahwa kedua tersangka mengaku terinspirasi oleh kelompok teroris Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) saat melakukan aksi tersebut.

Kronologi Kejadian

Insiden bermula ketika kelompok yang dipimpin oleh aktivis sayap kanan Jake Lang menggelar aksi demonstrasi bernada anti-Islam di luar kawasan Gracie Mansion, kediaman resmi Wali Kota New York. Aksi tersebut memicu kehadiran sekitar 125 orang dari kelompok kontra-protes yang mengusung slogan “Drive the Nazis Out of New York”.

Ketegangan meningkat sekitar pukul 12.15 siang ketika salah seorang peserta aksi dari kelompok Lang menyemprotkan gas merica ke arah massa. Sekitar 20 menit kemudian, seorang pemuda berusia 18 tahun dari kelompok kontra-protes menyalakan sumbu bom rakitan dan melemparkannya ke arah area demonstrasi.

Komisioner NYPD Jessica S. Tisch mengatakan perangkat peledak tersebut jatuh di area penyeberangan jalan. “Saksi melaporkan melihat api dan asap saat benda itu melayang di udara sebelum menghantam pembatas jalan dan akhirnya padam hanya beberapa kaki dari petugas polisi,” ujar Tisch.

Setelah pelemparan bom pertama, pelaku disebut berusaha mengambil bom kedua dari rekannya yang berusia 19 tahun. Namun aparat keamanan yang berjaga segera mengamankan lokasi dan menangkap keduanya sebelum perangkat kedua sempat diledakkan.

Tim penjinak bom dari NYPD kemudian melakukan pemeriksaan awal terhadap dua perangkat tersebut. Ukurannya sedikit lebih kecil dari bola sepak dan dibuat dari toples yang dililit selotip hitam. Di dalamnya ditemukan campuran bahan peledak rakitan serta serpihan logam seperti mur, baut, dan sekrup yang dirancang untuk memperbesar dampak ledakan.

Penyelidik saat ini masih meneliti kemungkinan adanya campuran TATP (triacetone triperoxide), yakni bahan peledak yang dikenal sangat tidak stabil dan mudah meledak.

Pada Minggu, aparat juga menemukan perangkat mencurigakan lain di dalam sebuah kendaraan yang terparkir beberapa blok dari lokasi kejadian. Polisi menduga benda tersebut berkaitan dengan insiden pelemparan bom yang terjadi sehari sebelumnya.

Respons Pemerintah Kota dan Negara Bagian

Wali Kota New York Zohran Mamdani mengecam keras aksi kekerasan tersebut. Ia menilai meskipun demonstrasi kelompok Lang dipicu oleh sikap intoleran, penggunaan kekerasan tetap tidak dapat dibenarkan.

“Kekerasan dalam protes tidak pernah bisa diterima. Upaya menggunakan perangkat peledak untuk menyakiti orang lain bukan hanya tindakan kriminal, tetapi juga tercela dan bertentangan dengan nilai-nilai kita,” kata Mamdani.

Sementara itu, Gubernur Negara Bagian New York Kathy Hochul menegaskan bahwa pemerintah menghormati hak masyarakat untuk melakukan aksi protes secara damai, namun tidak akan mentoleransi kebencian maupun kekerasan.

Pihak NYPD juga memastikan bahwa hingga saat ini belum ditemukan indikasi bahwa insiden tersebut berkaitan langsung dengan konflik yang tengah berlangsung di Iran. Meski demikian, penyelidikan masih terus dilakukan mengingat tingginya tingkat ancaman keamanan yang sedang dihadapi.

Leave a Comment

Related Post