Harakatuna.com. Palu – Universitas Islam Negeri (UIN) Datokarama Palu, Sulawesi Tengah, bersama Kementerian Sosial (Kemensos) tengah mematangkan kerja sama strategis yang berfokus pada program pemberdayaan bagi mantan narapidana terorisme (eks napiter) di Indonesia. Kolaborasi ini bertujuan memberikan dukungan komprehensif bagi para eks napiter agar mampu kembali berintegrasi secara utuh ke dalam kehidupan masyarakat.
Rektor UIN Datokarama Palu, Prof. Lukman Thahir, mengatakan bahwa upaya pencegahan radikalisme tidak cukup hanya melalui pendekatan moderasi beragama. Menurutnya, diperlukan langkah lanjutan berupa program pemberdayaan yang berkelanjutan agar eks napiter memiliki masa depan yang lebih jelas.
“Upaya pencegahan radikalisme tidak cukup hanya melalui pendekatan moderasi beragama. Diperlukan tindak lanjut berupa pemberdayaan nyata dan berkelanjutan agar para eks napiter dapat kembali berintegrasi secara penuh dalam masyarakat,” ujar Prof. Lukman.
Ia menjelaskan, saat ini kedua lembaga tengah merumuskan naskah Memorandum of Understanding (MoU) mengenai penyelenggaraan kesejahteraan sosial. Setelah MoU disepakati, kerja sama tersebut akan ditindaklanjuti melalui Perjanjian Kerja Sama (PKS) yang mengatur secara lebih rinci berbagai program pemberdayaan sosial bagi eks warga binaan kasus terorisme.
PKS tersebut akan dijalankan melalui implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi yang melibatkan unsur pendidikan, penelitian, serta pengabdian kepada masyarakat.
Pendekatan Holistik dalam Penanganan Radikalisme
Prof. Lukman menegaskan bahwa penanganan radikalisme memerlukan pendekatan yang menyeluruh, mulai dari tahap pencegahan hingga proses reintegrasi sosial bagi para eks napiter. Menurutnya, kebebasan secara fisik saja tidak cukup jika mereka masih terbelenggu oleh ideologi ekstrem.
“Eks napiter tidak hanya harus bebas secara fisik, tetapi juga terbebas dari pengaruh ideologi ekstrem yang mungkin masih melekat. Sering kali, perasaan tidak memiliki masa depan menjadi salah satu faktor yang membuat mereka rentan kembali pada paham tersebut,” katanya.
Ia menambahkan bahwa kemandirian ekonomi menjadi faktor penting dalam memulihkan martabat para eks napiter di tengah masyarakat. Stigma sosial serta keterbatasan akses ekonomi sering kali menjadi tantangan utama bagi mereka untuk memulai kehidupan baru.
Melalui kerja sama ini, UIN Datokarama Palu dan Kemensos berupaya menjembatani persoalan tersebut melalui pendekatan yang menggabungkan penguatan ideologi moderat dan dukungan sosial-ekonomi.
Penguatan Ideologi dan Dukungan Psikososial
Dalam kolaborasi tersebut, UIN Datokarama Palu akan berperan dalam penguatan pemahaman keagamaan moderat melalui pendampingan dialogis. Para akademisi dan pakar moderasi beragama dari kampus tersebut akan terlibat dalam proses pembinaan ideologis.
“Pendampingan ini bertujuan memastikan pemahaman keagamaan para eks napiter tetap inklusif, toleran, dan jauh dari paham ekstremisme,” kata Prof. Lukman.
Selain itu, aspek psikososial juga menjadi perhatian penting dalam program ini. Banyak eks napiter yang menghadapi tekanan mental maupun trauma sosial setelah kembali ke masyarakat. Oleh karena itu, dukungan psikologis dinilai penting agar mereka mampu beradaptasi kembali dengan lingkungan sosial.
Pemberdayaan Ekonomi Produktif
Sementara itu, Kemensos akan memfokuskan program pada pemberdayaan ekonomi produktif. Melalui unit terkait, kementerian akan memberikan bantuan modal usaha serta pelatihan keterampilan (vocational training) bagi para eks napiter.
Program pelatihan tersebut akan disesuaikan dengan potensi ekonomi lokal di wilayah tempat tinggal para eks napiter. Dengan demikian, usaha yang dijalankan diharapkan lebih relevan, berkelanjutan, dan memiliki peluang berkembang.
“Jika suatu daerah memiliki potensi di sektor pertanian, maka pelatihan akan diarahkan pada pengembangan agribisnis. Pendekatan ini penting agar program pemberdayaan benar-benar memberikan dampak nyata,” jelas Prof. Lukman.
Dengan dukungan keterampilan dan akses permodalan, para eks napiter diharapkan mampu menciptakan usaha mandiri maupun bekerja di sektor formal sehingga memiliki kemandirian finansial.
Ruang Lingkup Kerja Sama
Kerja sama antara UIN Datokarama Palu dan Kemensos mencakup sejumlah program penting. Di antaranya adalah pemberian rehabilitasi sosial bagi eks napiter, pemberdayaan sosial yang menyentuh berbagai aspek kehidupan, serta bimbingan spiritual guna memperkuat nilai-nilai keagamaan yang moderat dan toleran.
Selain itu, kerja sama ini juga mencakup peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM), baik bagi para eks napiter maupun para pendamping program. Kedua lembaga juga akan melakukan pertukaran data dan informasi guna memastikan program berjalan secara efektif dan terkoordinasi.
Kementerian Sosial disebut telah memberikan respons positif terhadap draf kerja sama tersebut. Dalam pembagian peran yang disepakati, penguatan mental dan spiritual akan menjadi tanggung jawab UIN Datokarama Palu, sedangkan penguatan sosial dan ekonomi akan ditangani oleh Kemensos. “Pembagian peran ini penting agar program dapat berjalan lebih efektif dan sesuai dengan kompetensi masing-masing lembaga,” kata Prof. Lukman.
Ia berharap kolaborasi ini dapat membuka peluang yang lebih luas bagi para eks napiter untuk memperoleh pekerjaan yang layak serta membangun kehidupan yang lebih stabil. “Kami berharap para eks napiter dapat memiliki masa depan yang lebih baik, hidup lebih mapan, serta mampu berkontribusi positif bagi masyarakat. Dengan begitu, potensi mereka kembali terpapar paham ekstremisme dapat diminimalkan,” ujarnya.








Leave a Comment