Iran Tetapkan 40 Hari Berkabung Nasional Usai Wafatnya Ayatollah Ali Khamenei

Ahmad Fairozi, M.Hum.

01/03/2026

2
Min Read

On This Post

Harakatuna.com. Teheran – Pemerintah Republik Islam Iran menetapkan masa berkabung nasional selama 40 hari setelah wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, yang dilaporkan tewas dalam serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel pada Sabtu (28/2).

Keputusan tersebut diumumkan melalui siaran resmi televisi pemerintah dan dilaporkan sejumlah media negara pada Ahad pagi (1/3), termasuk Fars News Agency.

Televisi pemerintah Iran menayangkan pengumuman resmi yang menyebut Khamenei meninggal dunia akibat serangan yang menghantam pusat kota Teheran, termasuk kompleks kediaman dan kantor pusat kekuasaan. Dalam siaran tersebut, Khamenei disebut sebagai “syahid umat dan pejuang perlawanan” atas apa yang dinilai sebagai agresi terhadap Republik Islam.

Sebagai bagian dari kebijakan berkabung, pemerintah Iran menetapkan libur nasional selama tujuh hari. Kebijakan ini dimaksudkan agar masyarakat dapat mengikuti rangkaian doa, upacara keagamaan, dan penghormatan terakhir. Bendera negara juga dikibarkan setengah tiang di seluruh instansi pemerintah sebagai simbol duka nasional.

Reaksi keras datang dari Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) yang menegaskan akan mengambil langkah balasan terhadap pihak yang dianggap sebagai pelaku utama serangan.

Ancaman pembalasan tersebut muncul di tengah eskalasi konflik kawasan, termasuk serangan rudal dan drone Iran ke sejumlah titik di Timur Tengah dalam rangkaian ketegangan dengan Amerika Serikat dan Israel.

Di berbagai kota besar Iran, laporan media internasional dan saksi mata menyebutkan suasana duka mendalam di tengah masyarakat. Namun, tidak sedikit pula warga yang mengungkapkan kekhawatiran mengenai masa depan politik dan stabilitas keamanan negara pascawafatnya figur sentral tersebut. Sejumlah kalangan menilai situasi ini dapat memicu dinamika baru dalam konfigurasi kekuasaan domestik maupun hubungan luar negeri Iran.

Ali Khamenei memimpin Iran sejak 1989, menggantikan pendiri Republik Islam, Ruhollah Khomeini. Selama lebih dari tiga dekade kepemimpinannya, ia memegang peran strategis dalam menentukan arah politik, militer, dan kebijakan luar negeri Iran.

Di bawah kepemimpinannya, Iran terlibat dalam hubungan yang tegang dengan negara-negara Barat, khususnya Amerika Serikat dan Israel, serta dikenal memiliki pengaruh kuat melalui jaringan kelompok sekutu di kawasan.

Wafatnya Khamenei dinilai menciptakan kekosongan kepemimpinan yang berpotensi memengaruhi stabilitas internal Iran sekaligus peta geopolitik Timur Tengah, terutama di tengah konflik yang masih berlangsung.

Leave a Comment

Related Post