Harakatuna.com – Hari Minggu (15/2) kemarin, ada kejadian menjengkelkan di salah satu masjid di Bekasi. Seorang ustaz, dari kalangan Wahabi, diminta mengisi pengajian. Orangnya masih muda, dan dia segera membuat jemaah kesal dengan menyinggung-nyinggung rakaat tarawih. Hal sekecil masalah rakaat tarawih saja, dia menyesat-nyesatkan sesama. Dan ketika seorang jemaah menegurnya, dia berdalih, “jangan larang saya menyebarkan ilmu!”.
Saya mendengar itu dengan perasaan begitu jengkel, ingin menebas lehernya. Buat apa orang Wahabi itu menyalahkan amaliah orang lain? Mau shalat 11 atau 23 rakaat, tarawih itu sama-sama benar. Tidak perlu diperdebatkan, apalagi sampai menyalahkan. Saya kemudian langsung datangi ketua DKM-nya, agar kerukunan di masjid itu tidak dirusak dengan mengundang begundal Wahabi. Mereka perusak Islam dan pemecah-belah umat. Alih-alih diundang harusnya mereka dibasmi!
Dua dekade terakhir, Wahabi tidak dapat dipahami semata sebagai gerakan teologi, melainkan sebagai fenomena religio-politik transnasional. Laporan RAND Corporation mengkategorisasi Wahabi sebagai ultra-conservative reformist movement yang berkembang biak lewat dakwah ideologis, dukungan negara Saudi, serta jaringan institusi pendidikan global yang didanai Saudi juga. RAND menegaskan, ekspansi ideologi yang dimaksud sangat terkait dengan perubahan geopolitik ketika Saudi memperoleh kapasitas finansial untuk menyebar pengaruh religius di negara Muslim.
Menurut RAND, penyebaran Wahabi terjadi melalui pendanaan masjid, distribusi buletin/majalah/buku gratis, pemberian beasiswa ke universitas di Saudi, serta pengiriman dai ke berbagai negara. Laporan tersebut mencatat bahwa sejak 1970-an hingga awal 2000-an, miliaran dolar dialokasikan untuk aktivitas dakwah global, menjadikan Wahabi sebagai soft power religius paling masif. Dampaknya, di negara ini saja, muncul pergeseran dari praktik Islam lokal yang plural menuju puritanisme dan anti-perbedaan. Meresahkan.
Temuan serupa diungkapkan oleh International Crisis Group (ICG), bahwa pengaruh Wahabi selalu memicu ketegangan antarumat Muslim karena pendekatannya yang menolak tradisi keagamaan lokal seperti tasawuf, ziarah kubur, dan praktik keislaman lokal seperti tarawih. Di beberapa negara seperti Pakistan, Nigeria, dan Indonesia, laporan ICG mencatat bahwa dakwah Wahabi berkontribusi terhadap polarisasi umat, memecah-belah persatuan.
ICG juga mengakui bahwa dalam konteks tertentu, teologi Wahabi menciptakan lingkungan ideologis yang mempermudah legitimasi retorika radikal-teror, terutama ketika dikombinasikan dengan faktor politik, konflik, dan marginalisasi sosial. Seperti pernah disampaikan Irjen Hamli, Wakil Ketua BPET MUI, bahwa tidak semua Wahabi itu teroris namun semua teroris itu pasti Wahabi. Wahabi merusak dan menghancurkan Islam dari dalam.
Artinya, Wahabi merupakan gerakan keagamaan dengan kapasitas global yang besar karena didukung sumber daya finansial dan legitimasi negara. Pengaruhnya berdampak pada dinamika sosial, identitas keagamaan, dan konfigurasi politik di dunia Muslim. Maka, memahami Wahabi memerlukan pendekatan multidimensional yang menggabungkan perspektif sejarah, politik, dan studi keamanan, bukan sekadar analisis doktrinal semata.
Wahabi itu Komplotan Zionis?
Sejak pertengahan abad ke-20, hubungan antara Arab Saudi, Wahabi, dan Israel jadi isu paling kontroversial dalam politik dunia Islam. Narasi tentang kedekatan ketiganya sering muncul dalam wacana politik. Wahabi sendiri lahir pada abad ke-18, lebih dari satu abad sebelum Zionisme muncul di Eropa pada akhir abad ke-19. Jadi apakah klaim bahwa Wahabi merupakan proyek Zionis itu benar? Jawabannya tak sesederhana ‘iya’ atau ‘tidak’. Yang jelas, mereka sama-sama bobrok.
Sumber persepsi keterkaitan ketiganya berasal dari realitas geopolitik, khususnya relasi Arab Saudi dan Barat. Sejak perjanjian Quincy tahun 1945 antara Presiden AS Franklin D. Roosevelt dan Raja Abdulaziz, ada hubungan keamanan-energi yang sangat erat antara Washington dan Riyadh. Saudi jadi sekutu utama AS di Timur Tengah untuk menahan pengaruh nasionalisme Arab revolusioner dan komunisme. Saudi berkoalisi dengan AS, dan menormalisasi relasi dengan Zionis Israel.
Tetapi bukankah literatur Wahabi klasik justru menunjukkan posisi yang tegas terhadap kolonialisme dan dominasi non-Muslim di wilayah Islam? Iya. Banyak ulama Saudi sejak pertengahan abad ke-20 secara terbuka mendukung perjuangan Palestina dan mengkritik okupasi Israel. Namun, di level negara, kebijakan luar negeri Saudi bergerak berlawanan, memperjelas kemunafikan mereka. Hal itu dianggap strategi menjaga stabilitas keamanan dan kepentingan ekonomi, padahal aslinya memang karena Saudi, Wahabi dan Zionisme itu satu visi.
Konvergensi kepentingan strategis Saudi dan Israel, terutama terkait ancaman Iran dan stabilitas kawasan Teluk, semakin memperkuat persepsi tersebut. Meski tidak memiliki hubungan diplomatik resmi, berbagai laporan menunjukkan adanya komunikasi keamanan tidak langsung dan keselarasan posisi geopolitik dalam sejumlah isu regional. Para analis menyebutnya sebagai tacit strategic alignment, yakni keselarasan pragmatis tanpa aliansi formal atau kesamaan ideologis.
Karena itu, relasi Wahabi, Saudi, dan Zionisme merupakan hasil dinamika politik global, konflik ideologi regional, dan keselarasan ideologis. Anggapan di dunia Muslim bahwa Wahabi itu komplotan Zionis bukanlah produk sejarah propaganda politik dan perubahan geopolitik, melainkan fakta hubungan teologis atau aliansi ideologis yang nyata. Ini penting dipahami agar kritik terhadap peran Saudi atas Wahabi menjadi penyelamat Indonesia dari propaganda Wahabisasi itu sendiri.
Indonesia dan Propaganda Wahabisasi
Wahabisasi adalah ekspansi puritanisme skripturalis yang berlangsung secara sistematis sejak akhir abad ke-20. Ia tumbuh melalui jaringan pendidikan transnasional, pendanaan religius Saudi, serta strategi dakwah terstruktur lewat alumni-alumni kampus Saudi. Sejumlah peneliti mencatat bahwa ekspansi tersebut bekerja bukan melalui konfrontasi terbuka, tetapi lewat penetrasi bertahap pada ruang otoritas keagamaan: masjid, lembaga pendidikan, media dakwah, dan literatur keislaman.
Distribusi buku gratis, pengajian tematik, dan kurikulum dakwah yang seragam menciptakan apa yang oleh sosiolog disebut sebagai reframing otoritas religius. Umat Islam yang semula merujuk pada ulama lokal perlahan beralih kepada rujukan tekstual baru yang dianggap autentik dan murni. Proses itu lantas mengubah praktik lokalitas Islam dan menggeser legitimasi sosial ulama tradisional, sehingga terjadi pergeseran otoritas keagamaan di grassroot, seperti yang terjadi di Bekasi kemarin.
Kanal kedua yang sangat menentukan ialah sistem kaderisasi melalui pendidikan transnasional. Beasiswa ke Timur Tengah, terutama sejak era 1970-an, menciptakan generasi dai dengan orientasi teologis Wahabi. Pemuda-pemuda goblok yang kuliah di Saudi, setelah kembali ke Indonesia, mereka pada jadi aktor penyebaran dakwah Wahabi, baik sebagai pengajar, pengurus masjid, maupun ustaz populer. Pola tersebut mencerminkan mekanisme cadre production, mencetak elite ideologis lewat jalur pendidikan.
Perkembangan teknologi komunikasi mempercepat proses tersebut melalui dominasi dakwah digital. Gerakan Wahabi, yang kemudian menyamar sebagai ‘Salafi’, paling adaptif dalam memanfaatkan medsos dan jaringan konten religius online. Penyebaran narasi puritanisme pun masif, menciptakan arena baru kontestasi identitas keagamaan. Akibatnya, wacana Islam publik di Indonesia bergeser dari model otoritas berbasis jam’iyyah menuju model otoritas berbasis popularitas media.
Selain itu, banyak institusi dakwah Wahabi menggunakan nama ulama klasik atau istilah Islam umum, bukan label yang secara eksplisit merujuk pada Wahabi. Fenomena semacam itu dipahami sebagai strategi kamuflase dan framing, yakni upaya menyesuaikan citra publik agar diterima dalam masyarakat dengan tradisi keagamaan lokal yang kuat. Strategi tersebut memungkinkan ekspansi ideologi Wahabi berlangsung secara gradual, tanpa memicu resistansi langsung atas Wahabisasi.
Dampak sosial dari semua itu bersifat ambivalen namun nyata. Para pendukungnya melihat Wahabi sebagai gerakan pemurnian dan peningkatan disiplin keislaman. Yang lain menganggapnya sebagai penyebab keterpecahan umat. Kontestasi tersebut merupakan perebutan otoritas untuk mendefinisikan apa yang dianggap sebagai Islam yang sah. Karena itu, Wahabisasi di Indonesia adalah bagian dari dinamika kekuasaan simbolik di medan sosial keagamaan.
Propaganda Wahabisasi di Indonesia telah menyeret umat ke arah disintegrasi umat dan dekonstruksi lokalitas Islam. Dan yang jauh lebih menjijikkan, orang-orang Wahabi itu menganggap siapa pun yang berbeda dengan mereka sebagai pihak yang salah. Jadi jika debat kusir di medsos kini menunjukkan animo besar atas Wahabi, maka tidak perlu lagi kaget karena itu memang hasil kemasifan propaganda Wahabisasi. Maka, bagi regulator terkait, tak ada cara selain memusnahkan mereka. Indonesia tidak boleh memberi ruang untuk Wahabi. Musnahkan para parasit itu dari tanah air!
Wallahu A’lam bi ash-Shawab…








Leave a Comment