Harakatuna.com – Menulis sering kali tidak dimulai dari kata-kata, melainkan dari kebingungan. Dari layar laptop yang kosong, dari kursor yang berkedip, dan dari perasaan tidak tahu harus menulis apa. Saya pernah, dan sering, berada di titik itu. Berjam-jam duduk di depan layar, menunggu sesuatu muncul di kepala, tapi yang datang justru kekosongan. Dan ternyata, kebingungan semacam ini bukan hanya dialami penulis pemula, melainkan juga mereka yang sudah lama menulis.
Apa dan bagaimana sesuatu itu ditulis menjadi suatu permasalahan yang selalu menghampiri dan menghantui setiap penulis yang akan memulai tulisannya. Mereka akan mengalami kebingungan terlebih dahulu, mereka akan berdiam diri di depan laptop selama berjam-jam sambal melihat layer kosong, dan masih tidak tahu mau menulis apa. Itulah yang sering terjadi kepada penulis-penulis pemula yang masih bingung dengan apa yang ingin mereka tuliskan.
Ini juga sebenarnya tidak hanya dialami oleh para penulis pemula, tapi juga penulis kawakan, dan tentu saja hal ini pun pernah terjadi kepada saya. Bagaimana saat akan memulai menulis, entah mengapa saya hanya akan berdiam diri melihat layar laptop yang kosong, selama berjam-jam dan masih tidak tahu ingin menuliskan apa. Betul-betul kosong.
Lalu mengapa hal itu bisa terjadi kepada setiap kita? Alasan yang paling sederhananya adalah kita tidak tahu, bingung, dan takut. Tidak tahu mau menulis apa, bingung akan menulis apa, dan takut ketika akan menuliskannya.
Itulah perasaan-perasaan yang pada awal-awal proses kreatif saya seringkali muncul. Dan perasaan bingung dan takut macam itu yang begitu dominan. Bingung karena kita tidak memiliki sesuatu untuk dibagikan dan dituliskan. Kita merasa tidak memiliki semacam sesuatu yang berharga di dalam diri kita untuk kemudian dibagikan, dan didengar atau dibaca oleh orang-orang di luar sana.
Entah itu pengalaman, pengetahuan, atau pun cerita. Kita merasa tidak memiliki sesuatu yang menarik dalam hidup kita untuk dibagikan kepada seseorang. Dan saat kita memiliki sesuatu yang berharga pun ketika kita akan mulai menuliskannya, kita seringkali menjadi merasa takut. Kita takut menyakiti hati orang lain, kita takut dihujat orang lain, kita takut dikritik oleh orang lain, kita takut menuliskan kejujuran itu. Kebingungan dan ketakutan semacam tentu saja juga saya rasakan.
Akan tetapi seiring waktu berjalan, dan pengalaman semakin bertambah ada sesuatu yang menyentuh kesadaran saya, meskipun saya tidak bisa mendefiniskannya dengan pasti. Kebingungan dan ketakutan itu perlahan berkurang, karena tidak benar-benar menghilang. Namun setidaknya saya tidak lagi merasa bingung dan takut untuk menuliskan sesuatu yang ingin saya tulis, meskipun kebingungan dan ketakutan itu akan tetap ada di sana.
Bahkan setelah saya berhasil menuliskannya dengan jujur, berani, dan apa adanya tiba-tiba ada semacam pelepasan kecemasan di sana. Dan itu tidak hanya terjadi satu dua kali, tetapi berulang kali saya merasakan kelegaan itu ketika berhasil, jujur, berani, dan selesai menuliskannya. Meskipun ada sesuatu juga yang tidak bisa saya tuliskan dengan gamblang, karena sesuatu itu begitu gelap, dan saya sendiri tidak bisa mengeluarkannya dengan leluasa.
Ketika kita sudah mulai menuliskannya, dan tidak bingung untuk menulis apa, kita akhirnya akan dihadapkan dengan proses bagaimana cara menuliskannya. Ketika kita sudah memiliki bahan untuk dituliskan, kita bingung dengan bagaimana cara mengungkapkannya atau cara menuliskannya. Kita akan menghadapi ketakutan selanjutnya. Dan ia tidak benar-benar hilang, dan seringkal kita sebagai seorang penulis harus menghadapinya, cepat atau lambat, suka atau tidak, kita harus benar-benar menghadapinya.
Menghadapi ketakutan diri sendiri tidaklah mudah, ia membutuhkan sikap dan mental yang kuat, ini bukan sekadar melawan ketakutan, tapi juga adalah sebuah seni. Ini seperti bagaimana kita berperang melawan diri sendiri. Ada sesuatu di dalam diri kita yang ingin dikeluarkan dan dibagikan. Tapi kita kadang takut bahwa apa yang akan keluar dari diri kita adalah sesuatu yang tidak penting, akan menyakiti orang lain atau bahkan tidak memberikan dampak apapun kepada kehidupan.
Lah memangnya apakah semua hal harus memberikan dampak kepada kehidupan ini? Bahwa apa yang telah kita tulis itu memang terkadang tidak memberikan dampak apapun terhadap orang lain. Dan jika tulisan kita tidak berdampak kepada orang lain apakah itu menjadi salah?
Meskipun tulisan kita katakanlah tidak memberikan dampak kepada orang lain, tapi setidaknya ia bisa memberikan dampak kepada diri kita sendiri ketika kita sudah menuliskannya. Setidaknya perasaan kita sudah lega dan lepas, serta akan merasa bahwa masih akan ada harapan di depan sana. Dan hidup akan baik-baik saja, selama kita mau menerima takdir hidup kita sendiri dengan sebaik-baiknya, bukankah itu juga sudah termasuk dampak luar biasa yang bisa kita dapatkan.
Cara menuliskan sesuatu yang sudah ada dalam kepala kita memang memerlukan jam terbang tinggi. Setiap pekerjaan memang selalu membutuhkan skill yang mumpuni dan pengalaman yang tinggi, agar kualitas tulisan kita menjadi lebih baik, dan lebih baik lagi setiap harinya. Jadi memang ini membutuhkan proses yang tidak sebentar dan waktu yang tidak sedikit. Karena menulis sebuah karya bagaimanapun juga adalah sebuah proses. Tidak bisa sebuah tulisan yang kita hasilkan pasti langsung bagus.
Lalu apakah kita akan berkembang atau tidak itu tergantung dengan motivasi yang dibawa oleh individu itu sendiri, apakah ia ingin berkembang, ataukah ia hanya ingin terus menjadi seorang penulis yang semenjana saja, ini soal pilihan. Dan yang bisa saya katakan adalah semua ini adalah soal proses, dan tentu saja tidak ada proses yang instan, semua membutuhkan waktu, semua membutuhkan pengorbanan, semua membutuhkan perjuangan yang totalitas terhadap sesuatu yang benar-benar ingin kita lakukan dan sangat kita cintai.
Dalam konteks ini adalah menulis, misalnya. Jadi ketika kita sudah sampai di sini, apakah kalian sudah bisa melihat polanya? Saya sudah menulis apa dan bagaimana cara menuliskannya. Bahwa dalam tulisan ini saya sudah menulis pengalaman dan bagaimana cara menuliskan pengalaman itu kepada para pembaca.







Leave a Comment