Iran Siapkan Lahan Pemakaman untuk Ribuan Tentara AS jika Perang Pecah

Ahmad Fairozi, M.Hum.

04/02/2026

2
Min Read
Iran Siapkan Lahan Pemakaman untuk Ribuan Tentara AS Jika Perang Pecah

On This Post

Harakatuna.com. Teheran — Iran dilaporkan telah menyiapkan lokasi pemakaman yang disebut mampu menampung beberapa ribu tentara Amerika Serikat (AS) jika Washington melancarkan perang terhadap Teheran. Persiapan itu dilakukan oleh Organisasi Behesht Zahra, lembaga yang mengelola kompleks pemakaman terbesar di Iran.

Kantor berita Mehr yang dikenal dekat dengan pemerintah Iran melaporkan, Organisasi Behesht Zahra menyatakan langkah tersebut diambil sebagai bentuk antisipasi di tengah meningkatnya ketegangan antara Iran dan AS. Lokasi pemakaman itu disebut akan disiapkan di pinggiran Teheran, ibu kota Iran.

Langkah Iran tersebut muncul ketika Presiden AS Donald Trump kembali melontarkan ancaman keras terhadap Teheran. Trump disebut mengancam akan menginvasi Iran apabila tuntutan-tuntutannya tidak dipenuhi oleh pemerintah Iran.

Di saat yang sama, gugus tempur Angkatan Laut AS yang dipimpin kapal induk USS Abraham Lincoln dilaporkan sudah disiagakan di sebuah lokasi yang dirahasiakan di kawasan Timur Tengah.

Trump menyampaikan pernyataan itu saat menghadiri karpet merah pemutaran perdana film dokumenter tentang istrinya yang berjudul Melania. Dalam kesempatan itu, ia mendesak Iran agar meninggalkan ambisi nuklirnya serta menghentikan tindakan kekerasan terhadap demonstran anti-pemerintah.

“Kita memiliki banyak kapal yang sangat besar dan sangat kuat yang berlayar ke Iran saat ini. Dan akan lebih baik jika kita tidak perlu menggunakannya,” kata Trump, seperti dikutip dari The Express, Senin (2/2/2026).

Trump juga menyebut ada dua tuntutan utama yang ia sampaikan kepada Iran. “Saya mengatakan kepada mereka dua hal; pertama, tidak ada senjata nuklir. Dan yang kedua, hentikan pembunuhan terhadap para demonstran. Mereka harus melakukan sesuatu,” ujarnya.

Sementara itu, Iran menegaskan program nuklirnya tidak ditujukan untuk kepentingan militer, melainkan murni untuk kebutuhan sipil. Teheran juga menyatakan terbuka untuk melakukan perundingan, namun menolak negosiasi yang dilakukan dalam tekanan.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan, Iran bersedia berdialog selama prosesnya berlangsung adil dan tidak disertai ancaman. “Teheran tidak memiliki masalah dengan negosiasi,” kata Araghchi.

Namun, ia menekankan bahwa AS perlu mengubah pendekatannya agar perundingan dapat berjalan. “Mereka tentu harus mengesampingkan ancaman mereka dan mengubah pendekatan mereka menuju negosiasi yang adil, seperti yang dikatakan Trump sendiri dalam unggahannya,” ujarnya.

Ketegangan Iran-AS dalam beberapa waktu terakhir kembali meningkat, menyusul isu nuklir, situasi politik domestik Iran, serta manuver militer AS di kawasan Timur Tengah. Sejumlah pengamat menilai eskalasi retorika kedua pihak berpotensi memperburuk stabilitas regional jika tidak segera diimbangi langkah diplomasi.

Leave a Comment

Related Post