Harakatuna.com. Jakarta – Paparan ideologi radikal dan ekstrem pada anak menunjukkan adanya kerentanan psikologis dalam fase perkembangan. Anak yang berada pada masa transisi pembentukan identitas dinilai lebih mudah dipengaruhi lingkungan sekitar.
Psikolog sekaligus Kepala Program Studi Kajian Terorisme Universitas Indonesia, Zora Arfina Sukabdi, mengatakan anak belum memiliki struktur psikologis yang matang sehingga membutuhkan pendampingan intensif dari orang dewasa terdekat.
“Anak ini kan masih masa transisi ya, dia punya beberapa tahap perkembangan yang memang sedang dibangun. Jadi banyak mudah diintervensi, masih harus didampingi,” kata Zora dalam perbincangan bersama Pro3 RRI, Jumat (30/1/2026).
Zora menjelaskan, krisis perkembangan merupakan bagian alami dalam proses pembentukan identitas anak. Namun pada fase tersebut, anak cenderung lebih rentan terhadap pengaruh pihak luar yang berupaya membentuk pola pikir tertentu.
Perubahan pola keluarga juga dinilai berkontribusi terhadap meningkatnya kerentanan anak. Kondisi kedua orang tua yang sama-sama bekerja berpotensi mengurangi pengawasan serta kelekatan emosional dengan anak. “Orang tua zaman sekarang biasanya bekerja double income, sehingga ketika keduanya bekerja siapa yang menjaga anak, dan ini rentan sekali banyak bisa dimasuki intervensi-intervensi luar,” ujarnya.
Selain itu, gawai dan media sosial disebut menjadi jalur utama paparan ideologi radikal. Algoritma digital membuat anak terus menerima konten serupa tanpa sudut pandang pembanding. “Media sosial ini kan ada algoritma dan kita ini sebagai konsumen, kita hanya penerima, apalagi anak. Sementara kemampuan berpikir kritisnya belum terbentuk,” ucap Zora.
Ia menambahkan, setiap anak memiliki tingkat kerentanan yang berbeda. Pengalaman seperti perundungan atau ketimpangan sosial dapat memperkuat kerentanan psikologis tersebut.
Dalam praktiknya, proses radikalisasi kerap dilakukan secara bertahap melalui metode grooming, seperti lewat gim daring dan percakapan personal. “Bisa jadi mungkin melalui game online, melalui chat di situ. Kemudian dari situ kadang-kadang anak menjadi suka curhat kecil-kecil,” katanya.
Menurut Zora, pesan-pesan ideologis yang disampaikan secara terus-menerus dapat menutup ruang berpikir logis anak. Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya peran orang tua dalam memberikan kasih sayang serta membuka ruang dialog dengan anak guna memperkuat ketahanan terhadap pengaruh ideologi ekstrem.







Leave a Comment