Menag Resmikan Rumah Moderasi Beragama di Wisma Sangha Theravada Indonesia

Ahmad Fairozi, M.Hum.

27/01/2026

3
Min Read

On This Post

Harakatuna.com. Jakarta — Menteri Agama Nasaruddin Umar meresmikan Rumah Moderasi Beragama di Wisma Sangha Theravada Indonesia, Cilandak, Jakarta Selatan, Senin (26/1/2026). Peresmian tersebut menandai komitmen penguatan dialog lintas iman yang inklusif dan berkelanjutan di Indonesia.

Sebagaimana dikutip dari laman resmi Kementerian Agama, kemenag.go.id, Rumah Moderasi Beragama ini diinisiasi oleh komunitas Buddhis dan difasilitasi Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha Kementerian Agama. Fasilitas ini dihadirkan sebagai ruang bersama untuk dialog, refleksi, dan kerja sama lintas agama.

Dalam sambutannya, Menteri Agama menegaskan bahwa Rumah Moderasi Beragama di Wisma Sangha Theravada diharapkan menjadi “Rumah Besar Kemanusiaan”, tempat seluruh perbedaan bertemu dalam suasana dialog yang teduh dan saling menghormati.

“Rumah Moderasi Beragama ini bukan sekadar bangunan fisik, tetapi rumah kemanusiaan, tempat semua perbedaan duduk bersama dalam dialog yang damai,” ujar Nasaruddin Umar.

Ia menuturkan, Wisma Sangha Theravada sejatinya telah lama berfungsi sebagai ruang dialog antarumat beragama, bahkan jauh sebelum peresmian resmi dilakukan. Sejumlah tokoh lintas iman, kata dia, telah bersepakat menjadikan tempat ibadah umat Buddha tersebut sebagai ruang berdiskusi, bertukar gagasan, dan berbagi karya demi memperkuat harmoni kebangsaan.

Menurut Menag, perbedaan merupakan bagian dari desain agung Sang Pencipta yang harus dijaga dan dirawat, bukan dihilangkan. Karena itu, kehadiran Rumah Moderasi Beragama tidak bertujuan untuk menyeragamkan pandangan.

“Kehadiran rumah ini bukan untuk menyamakan persepsi, melainkan untuk mencari titik temu atau kalimatun sawa demi menjaga keharmonisan,” katanya.

Lebih lanjut, Nasaruddin Umar menekankan pentingnya keseimbangan antara ilmu pengetahuan dan spiritualitas dalam membangun peradaban yang berkeadaban. Ia menyebut dunia membutuhkan dua kekuatan yang berjalan beriringan.

“Dunia harus dibimbing oleh dua kekuatan, yakni konsentrasi yang mewakili keilmuan akademis dan kontemplasi yang mewakili spiritualitas. Rumah ini harus melahirkan manusia yang teduh, yang mampu menyeimbangkan hubungan dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam,” tuturnya.

Dalam kesempatan tersebut, Menteri Agama juga mengutip ayat 129 Kitab Dhammapada yang mengandung nilai kemanusiaan universal. Ia mengingatkan bahwa kedamaian batin tidak akan tercapai apabila manusia mengabaikan keselamatan sesama dan kelestarian bumi.

“Semua orang takut akan hukuman, semua orang takut akan kematian. Dengan membandingkan orang lain dengan diri sendiri, seseorang hendaknya tidak membunuh atau menyebabkan pembunuhan. Karena itu, mari jadikan tempat ini sebagai pusat peningkatan intelektual, spiritualitas, dan kemanusiaan,” pesannya.

Sementara itu, tuan rumah acara, Bhante Dhammasubho Mahatera, menyambut peresmian Rumah Moderasi Beragama dengan pendekatan spiritual. Melalui pelaksanaan Puja Mantra selama 24 jam tanpa henti yang dimulai sehari sebelum peresmian, ia mengajak umat untuk menyucikan batin di tengah kehidupan modern yang kerap kehilangan dimensi spiritual.

Peresmian Rumah Moderasi Beragama ini diharapkan menjadi oase di tengah dinamika sosial masyarakat. Dengan memadukan doa, dialog intelektual, dan kepedulian terhadap lingkungan, Kementerian Agama bersama komunitas Buddhis berupaya menjaga Indonesia tetap menjadi rumah yang aman, damai, dan nyaman bagi seluruh umat beragama.

Acara tersebut turut dihadiri Staf Khusus Menteri Agama Gugun Gumilar, Direktur Jenderal Bimas Buddha Supriyadi, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama DKI Jakarta, Menteri Agama periode 2014–2019 Lukman Hakim Saifuddin, Alissa Wahid, Yudi Latif, serta perwakilan tokoh agama dan organisasi Buddhis nasional.


Leave a Comment

Related Post