Muslim Indonesia di Tengah Lautan Digitalisasi, Waspada Radikalisme!

Hendrik Kurniawan Wibowo

23/01/2026

6
Min Read
Muslim Indonesia

On This Post

Harakatuna.com – Kita menghadapi perhelatan zaman yang menuntut masyarakat untuk melakukan sesuatu dengan cepat. Interaksi, komunikasi, informasi, hingga jual-beli dapat dilakukan dengan sekejap mata. Semua itu karena berkah dari revolusi teknologi yang merupakan naturalitas dari sejarah. Namun kecepatan ini terkadang mengandung residualitas. Kecepatan informasi dan teknologi yang berkembang kadang mengabaikan kedalaman makna itu sendiri. 

Masyarakat di era transisi revolusi industri 4.0 menuju society 5.0 dengan otomasi serta kelimpahan informasi dipenuhi dengan kemudahan dan kemanjaan pengetahuan. Perpustakaan, guru, maupun ulama sudah tidak terlalu menjadi rujukan primer. Problem pengetahuan dan informasi sudah terwakili oleh internet of things (IoT) dan big data lewat kanal search engine. 

Belum selesai masyarakat menyesuaikan kebudayaan baru karena efek disruptif teknologi informasi ini kita sudah disuguhi dengan fenomena demokratisasi kecerdasan buatan (AI). Hari ini sudah banyak varian AI bermunculan. Tidak sebatas untuk membuat tulisan dan ide saja, masyarakat dunia dengan mudah dapat mengakses kecerdasan buatan lewat internet untuk membuat gambar, video, lagu hingga membuat paparan untuk presentasi. Berbagai macam aplikasi perangkat lunak sudah dilengkapi dengan AI yang membantu penggunanya untuk mengeksplorasi berbagai macam kemudahan. 

Kerja tim akan tergantikan oleh efisiensi kecerdasan buatan yang dampaknya adalah PHK massal karyawan. Manusia yang tidak dapat beradaptasi akan tersingkir di dunia yang semakin timpang dan kejam. Mungkinkah kita masuk pada era di mana revolusi manusia untuk mempercepat kebutuhan dapat berbalik menjadi awal dari kepunahan manusia. 

Muslim Indonesia dan Historisitas Bangsa dan Negara

Jika melihat teori Ibnu Khaldun tentang perkembangan peradaban kita dapat mengambil ibrah menarik. Ibnu Khaldun berpandangan bahwa peradaban yang terbentuk akibat solidaritas sosial dapat bertahan selama 3 generasi atau 100-120 tahun. Pandangan ini pun bisa dilihat dengan pandangan pesimistik bahwa peradaban yang dimaksud akan hancur jika sudah 120 tahun karena fase akhir dari peradaban adalah kenyamanan berujung kehancuran.

Namun di sisi lain pandangan Ibnu Khaldun ini dapat dimaknai bahwa setelah 120 tahun akan muncul pembaharu dalam suatu peradaban yang akan membentuk solidaritas sosial dan pandangan untuk memunculkan suatu peradaban baru tanpa meninggalkan solidaritas atau bangsa-peradaban yang lama.

Indonesia sebagai bangsa lahir bukan pada tahun 1945, melainkan pada tahun 1928. Pada saat itu pemuda-pemuda yang dimotori oleh Soegondo Djojopuspito dan Muhammad Yamin menyepakati tiga garis besar yang menyatukan berbagai macam suku dan agama yang terjajah di Hindia Belanda. Lewat Sumpah Pemuda yang diwadahi dalam Kongres Pemuda II, mereka menyepakati akan lahirnya suatu bangsa yang mengakui pada tumpah darah, bangsa dan bahasa satu yaitu “Indonesia”.  

Indonesia resmi menjadi negara pada tahun 1945 lewat proklamasi Ir. Soekarno dan M. Hatta yang dibacakan di Jalan Pegangsaan Timur Jakarta dalam nuansa ramadhan. Sekalipun pasca tahun tersebut masih lebih banyak darah yang ditumpahkan baik melawan penjajah asing maupun berperang dengan bangsa sendiri. Indonesia masih berlanjut di fase-fase berikutnya lewat pemerintahan Orde Lama, Orde Baru, Reformasi, hingga era digitalisasi saat ini. 

Jika menghitung umur bangsa Indonesia dalam jangka waktu 100 tahun ke depan maka kita bisa menggunakan perspektif kelahiran bangsa ini pada masa 2028. Namun jika kita ingin melihat secara formil terbentuknya negara Indonesia maka 100 tahunnya adalah pada tahun 2045, yang populer dengan penyambutan era emas Indonesia karena efek positif dari bonus demografi. Masa transisi kelahiran bangsa (2028) dan terbentuknya negara (2045) inilah fase yang cukup menentukan kiprah Indonesia di era digitalisasi.

Modalitas Etis: Kristalisasi Spirit Islam dan Pancasila 

Pancasila memiliki kausalitas yang menarik sebagai falsafah bangsa dan negara. Melalui  dasar Ketuhanan yang Maha Esa, maka implikasinya adalah kemanusiaan yang adil dan beradab. Hal ini menjadikan bangsa mampu menyatukan diri dalam ikatan kenegaraan Indonesia. Untuk itu diperlukan kepemimpinan rakyat yang didasarkan hikmat dan kebijaksanaan. Sehingga keadilan sosial dapat diraih untuk seluruh lapisan rakyat tanpa tertinggal sedikitpun. Idealitas Pancasila ini dapat dijadikan salah satu basis etika bagi masyarakat Indonesia. Fondasi ini dapat menjadi etika Pancasila yang dapat menjadi modal muslim Indonesia sebagai bangsa dan negara. 

Pun bagi seorang Muslim pun etika Pancasila merupakan landasan yang sangat sejajar dengan syariat Islam. Islam diturunkan ke bumi sebagai syariat penyempurna hingga akhir zaman. Tingkat fleksibilitas ajaran Islam dari sisi ontologis, epistemologis hingga aksiologis dapat menjawab dengan segala tantangan zaman. Era digital hari ini juga dapat dijawab dengan baik oleh ajaran Islam. 

Allah berfirman dalam Al-Baqarah ayat 143 “Dan demikian (pula) Kami menjadikan kamu (umat Islam) ummatan wasathan (umat yang adil dan pilihan)”. Umat Islam adalah ummatan washatan, atau pertengahan. Umat pertengahan merupakan umat yang mampu memoderasi segala macam problematika.

Wasathan diadopsi menjadi idiomatika wasit. Wasit adalah dia yang mampu menengahi pertandingan. Syarat menjadi wasit tentunya harus mengerti aturan main. Dalam konteks umat Islam, untuk menjadi ummatan wasatan harus mengerti aturan dan hukum peradaban yang telah, sedang dan akan berlangsung. 

Quick Win Muslim Indonesia Mengantarkan Generasi Emas 2045

Muslim Indonesia dengan sari pati Pancasila sebetulnya dapat berkiprah dalam pemajuan peradaban ini. Hal yang harus dilakukan adalah memiliki kelincahan dalam berbagai macam kecepatan informasi yang disediakan oleh zaman. Tidak hanya cepat untuk mencari, Muslim Indonesia harus mampu memiliki kedalaman untuk menangkap makna dalam berbagai peristiwa. Sehingga analisis yang dihasilkan memiliki dampak tidak hanya pengetahuan yang benar namun juga keadilan, keindahan hingga kebijaksanaan.

Kuncinya adalah dengan membaca, atau iqra. Allah berfirman dalam surah al-‘Alaq ayat 1-2 yang artinya “bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan”. Jadi pembacaan di era informasi ini membutuhkan kesadaran ontologis, epistemologis dan aksiologis sehingga apa yang dilihat tidak sekadar dibaca dan dinikmati.

Namun juga disaring sehingga menjadikan diri semakin manusiawi bahkan membawa masyarakat dunia pada kemanusiaannya. Ujungnya adalah keadilan bagi semesta sehingga yang terjadi bukan hanya eksploitasi alam, namun keberlanjutan untuk anak cucu hingga akhir zaman. 

Hari ini kita disuguhkan dengan berbagai piranti digital. Namun dengan bekal takwa seperti yang dikatakan Umar bin Khattab bahwa taqwa adalah kehati-hatian ketika berjalan di hamparan berduri, kita pun perlu selalu berhati-hati dalam mencari dan mengolah informasi. Karena kita hari ini berpeluang memiliki pengetahuan yang sama dengan anak bangsa di negara-negara maju.

Maka AI tidak hanya dijadikan alat untuk memanjakan tugas keseharian, namun dapat kita manfaatkan sebagai partner untuk mempercepat kemajuan kita. Pengetahuan dasar tentang ilmu alam dan teknologi atau STEM dapat kita pelajari bersama dengan AI. Juga hambatan-hambatan bahasa dapat dipermudah dengan pemanfaatan IoT.

Namun hal ini harus diimbangi dengan pengetahuan kemanusiaan yang kuat. Nabi pernah bersabda sebelum ilmu ada akhlaq. Ilmu disini dapat dimaknai sebagai ilmu alam maupun teknologi. Akhlak dapat ditadaburi sebagai ilmu tentang adab, peradaban, kemanusiaan dan turunannya seperti ilmu sosial, antropologi bahkan filsafat.

Maka sebelum belajar bersama dengan IoT dan AI, kita perlu memiliki kesadaran, pengetahuan dan kebijaksanaan yang dihasilkan dari pengetahuan mendalam tentang ilmu kemanusiaan-peradaban seperti psikologi, sosiologi, antropologi dan filsafat. Jika prinsip akhlak terlebih dahulu sebelum ilmu maka ilmu pengetahuan yang dihasilkan akan optimal.

Leave a Comment

Related Post