UMS Soroti Maraknya Radikalisme Anak di Ruang Digital

Ahmad Fairozi, M.Hum.

16/01/2026

2
Min Read
UMS Soroti Maraknya Radikalisme Anak di Ruang Digital

On This Post

Harakatuna.com. Surakarta – Wakil Rektor Bidang Penelitian, Kemitraan, dan Digitalisasi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Radius Setiyawan, menyoroti meningkatnya penyebaran paham radikalisme di kalangan anak melalui ruang digital. Ia menegaskan bahwa radikalisme saat ini tidak lagi terbatas pada ideologi keagamaan, tetapi juga berkembang dalam bentuk narasi rasialisme.

Radius menyebut temuan Densus 88 Antiteror Polri beberapa waktu lalu sebagai peringatan serius bagi seluruh elemen masyarakat, mulai dari pemerintah, institusi pendidikan, hingga keluarga. Menurutnya, derasnya arus informasi di dunia digital, khususnya yang dikonsumsi anak-anak, memiliki keterkaitan erat dengan meningkatnya potensi tindak kekerasan.

“Saya kira yang harus menjadi perhatian bersama itu ternyata sebarannya. Terutama di beberapa daerah besar,” ujar Radius dalam program Dialog Densus 88 bersama Pro3 RRI di Jakarta, Jumat (16/12/2026).

Ia menjelaskan, fenomena radikalisme anak saat ini juga dipicu oleh kuatnya narasi global yang beredar luas di media digital. Konten-konten tersebut dinilai mampu membangun jejaring serta menciptakan solidaritas semu di kalangan anak dan remaja.

Menurut Radius, karakter dunia digital yang tanpa batas memungkinkan anak-anak terhubung dengan berbagai pihak lintas negara. Kesamaan ide, gagasan, bahkan perasaan senasib menjadi faktor yang mempercepat proses radikalisasi. “Kesamaan ide, kesamaan gagasan bahkan kesamaan nasib, obrolan-obrolan itu menyatukan dalam satu cara pandang,” katanya.

Ia mengungkapkan, mayoritas anak yang terpapar radikalisme berasal dari kelompok usia remaja hingga Generasi Z, yang umumnya berada pada jenjang pendidikan sekolah menengah atas (SMA) hingga perguruan tinggi. Kondisi tersebut menjadi tantangan serius dalam pengawasan dan pengendalian konten digital yang diakses anak.

Radius menekankan pentingnya peran keluarga, sekolah, dan negara dalam merespons fenomena ini secara komprehensif. Ia menilai penguatan literasi digital serta peningkatan pengawasan menjadi langkah krusial untuk mencegah meluasnya radikalisme di kalangan anak dan remaja. “Literasi digital dan kontrol bersama harus diperkuat agar ruang digital tidak menjadi ladang subur bagi penyebaran paham radikal,” pungkasnya.

Leave a Comment

Related Post