Harakatuna.com – Salah satu profesi yang bisa menyebabkan awet muda adalah profesi sebagai penulis. Sebab, hidup penulis itu bebas dan merdeka. Mau menulis apa saja tidak ada yang melarang. Ia sangat enjoy dengan gagasan-gagasan liarnya. Ia boleh berimajinasi apa saja tentang persoalan hidup melalui tulisan, selama tidak membentur norma-norma yang sudah tertata.
Penulis itu memang asyik. Melalui karya-karyanya, ia dihormati dan dihargai. Pendapatnya kerapkali menjadi tren, ditiru, dan mempengaruhi banyak orang. Ada rasa kebanggaan tersendiri ketika ide-ide kita bisa diterima khalayak dan menjadi motivasi bagi banyak pihak. Bahkan, pernah tulisan itu mampu membatalkan orang yang hendak bunuh diri. Ia mengurungkan niat untuk terjun dari ketinggian usai membaca tulisan. Inilah dampak luar biasa dari sebuah tulisan.
Bagi sebagian orang, menulis bisa menjadi bagian dari upaya penyaluran kepenatan pikir. Tulisan menjadi sarana memuntahkan segala macam unek-unek yang selama ini terpendam, sehingga saat keganjalan itu dicurahkan lewat tulisan, hati dan pikirannya menjadi lega, plong, dan tidak ada beban.
Penulis tidak jauh berbeda dengan seorang pengusaha atau pedagang. Adapun dagangannya berupa karya tulis yang telah dihasilkan. Maka, prinsip-prinsip usaha atau dagang perlu juga dijalankan oleh penulis. Salah satu prinsip dagang yang perlu ditempuh adalah mampu memasarkan tulisannya kepada pihak lain.
Kemampuan pemasaran ini akan berpengaruh terhadap karya-karya yang dihasilkan. Sebab, seperti apa pun produktifnya seorang penulis, jika tidak mampu memasarkan hasil karyanya, maka sama saja dengan pedagang yang memiliki stok barang dalam jumlah besar tapi ia tidak mampu menjualnya.
Penulis, pengusaha dan pedagang sama-sama perlu memiliki jiwa entrepeneur. Sebab, ia mesti tahu dagangan apa yang pada masanya cukup laku di pasaran dan pada saat kapan dagangannya tidak laku. Jika tidak mampu membaca keinginan pasar, maka tulisan itu akan menjadi onggokan karya yang tidak tersentuh orang. Dengan mengetahui kebutuhan pasar atau pembaca, penulis akan lebih mudah menentukan karya jenis apa yang harus ia garap.
Oleh karena itu, terdapat empat jurus yang perlu diperhatikan oleh penulis sebelum mulai mengetik tulisan.
Jurus Pertama: Tema Tulisan
Tema tulisan memiliki peranan dalam menentukan laku tidaknya sebuah karya. Ada tulisan-tulisan tertentu yang memiliki tema sepanjang waktu, seperti jenis-jenis tulisan agama. Misalnya tentang puasa, salat, zakat, haji, dan lain-lain.
Namun, ada pula tulisan-tulisan dengan tema yang memerlukan waktu pendek, yaitu tema yang waktunya habis dalam jangka waktu tertentu. Seperti soal poligami, banjir bandang, kecelakaan pesawat terbang, dan sejenisnya. Tulisan sejenis ini biasanya akan banyak dibutuhkan konsumen pada saat masalah tersebut sedang ramai dibicarakan di tengah masyarakat. Sebaliknya, jika masalah tersebut sudah tidak lagi dibicarakan, maka tulisan itu akan kurang laku di pasaran.
Jurus Kedua: Untuk Siapa Tulisan Itu Dibuat
Seorang penulis mesti tahu untuk siapa tulisannya dibuat. Siapa segmen pasar yang ingin dituju. Jika tidak tahu segmen pasar pembaca dari karya yang dibuat, maka seorang penulis akan kesulitan membuat tulisan yang laku di pasaran.
Bila seorang penulis menginginkan segmen pasar remaja, maka ia mesti tahu persis apa yang dibutuhkan oleh kalangan remaja. Ia juga perlu tahu bahasa tren dan gaul yang biasa digunakan oleh remaja. Segala hal yang berkaitan dengan dunia remaja, penulis harus bisa memahami agar tulisannya bisa diterima oleh para remaja.
Sebaiknya tulisan dibuat dengan segmen pembaca yang tidak terlalu sempit. Dengan segmen pembaca yang luas, memungkinkan sebuah tulisan bisa dibaca oleh banyak kalangan.
Jurus Ketiga: Jenis Tulisan yang Dicari
Ada banyak jenis tulisan. Namun yang perlu diingat, kita menulis sebaiknya didasarkan atas kebutuhan pembaca, bukan atas keinginan kita. Apabila kita menulis berdasarkan keinginan kita, hal ini belum tentu sesuai dengan keinginan pasar atau kebutuhan masyarakat.
Perlu dicermati jenis tulisan apa yang sedang dibutuhkan masyarakat. Kemampuan untuk mengetahui tulisan yang sedang dibutuhkan masyarakat menjadi sangat penting, agar penulis tidak salah dalam melahirkan karya-karyanya. Jangan sampai penulis salah dalam menentukan kapan sebuah tulisan mesti ditayangkan.
Misalnya, masyarakat sedang gandrung dan lagi banyak mencari tulisan-tulisan soal terorisme dan radikalisme, sedangkan penulis mengirim karya filsafat, maka menjadi tidak nyambung dan apabila dipaksakan juga akan berakibat tulisannya tidak laku. Contoh lain, tulisan seputar puasa Ramadan, dari segi waktu hanya cocok jika dimunculkan sebelum dan saat datangnya bulan Ramadan. Jika ditampilkan pada musim haji, tentu waktunya kurang pas.
Jurus Keempat: Memahami Kebutuhan Pembaca
Pembaca ibarat raja. Mereka bisa mempengaruhi karier penulis. Pembacalah penentu terakhir apakah sebuah tulisan laku atau tidak. Memahami kebutuhan pembaca berarti penulis harus jeli dan teliti memenuhi kebutuhan pembaca.
Seorang penulis perlu secara terus-menerus mempelajari apa saja yang dibutuhkan oleh pembaca. Perlu diingat, selera pembaca terhadap tulisan selalu berubah dari waktu ke waktu seiring dengan situasi yang berkembang di tengah masyarakat. Sebagai penulis yang baik, ia harus terus bisa mengikuti selera yang terus berubah itu. Caranya adalah dengan tiada henti mengikuti arus perubahan yang sedang terjadi. Seperti dengan mengikuti berbagai seminar, dan mengikuti perkembangan informasi, baik lewat media elektronik ataupun media cetak.
Inilah yang perlu disiapkan secara matang oleh penulis sebelum mulai menggarap tulisan, agar karya yang dihasilkan benar-benar bermanfaat bagi masyarakat, mampu menjawab pertanyaan dan kebingungan pembaca, serta betul-betul menjadi karya yang berguna dan ditunggu-tunggu oleh segenap pembaca. Semoga bermanfaat.







Leave a Comment