Harakatuna.com – Saya akan terus berkali-kali mengatakan ini, bahwa menulis itu tidak akan pernah bisa dilepaskan dari kegiatan membaca. Bagaimanapun juga, mau sesakti apa pun seorang penulis, sehebat apa pun tulisan seseorang, atau sebagus apa pun tulisan dari seorang penulis profesional, ia pasti akan diriingi dengan kegiatan membaca.
Sebuah tulisan yang dihasilkan oleh seorang penulis pastilah merupakan akumulasi dari bacaan-bacaan yang dikonsumsi oleh si penulis itu sendiri. Oleh karena itu kegiatan menulis ini sudah barang tentu tidak bisa dipisahkan dari kegiatan membaca
Membaca dan menulis ini ibarat sebuah mata uang yang saling melengkapi satu sama lain. Dan ia tidak dapat dipisahkan antara satu dengan yang lain. Seorang penulis tidak bisa tidak, pasti adalah seorang pembaca juga, dan barangkali pula adalah seorang pembaca yang ulung.
Kalau tidak menjadi seorang pembaca ulung mustahil ia bisa menghasilkan sebuah tulisan, apalagi sebuah tulisan yang bagus, apalagi sebuah tulisan bagus yang bisa menyadarkan orang lain dan memberikan manfaat kepada para pembacanya.
Tapi memang selalu ada perkecualian, selalu ada penulis yang mengesampingkan kegiatan membaca, dan ia hanya ingin terus menulis. Ia ingin menulis tanpa pernah sekalipun membaca. Ada yang beralasan bahwa membaca malah akan mengikis keaslian atau orisinalitas dari si penulis itu sendiri.
Membaca sama saja dengan meniru dari penulis lain atau bacaan lain. Dan seorang penulis yang tidak membaca memiliki alasan yang demikian. Tentu saja alasan ini dibuat-buat dan mungkin saja mereka adalah penulis malas yang mencari-cari alasan agar tidak mau membaca dengan alasan ingin menjaga orisinalitas diri.
Padahal mustahil seorang penulis itu lahir dari kekosongan, atau ujug-ujug langsung lahir menjadi seorang penulis. Pasti seorang penulis itu adalah seorang peminjam, atau seorang pencuri bahkan, mereka meminjam dan mencuri semangat dari penulis-penulis sebelumnya.
Mereka menulis dan berkarya dengan meminjam semangat dan pengalaman dari penulis sebelumnya. Ini adalah hal yang niscaya, tidak mungkin tidak. Kecuali mereka tengah mengalami kasyf. Dalam paradigma sufi, kasyf adalahterbukanya seluruh perbendaharaan, ilmu, dan segala pengetahuan kepada diri seorang salik atau sufi. Dan tentu saja ini hanya bisa dilakukan oleh orang-orang pilihan yang dikehendaki oleh Tuhan.
Dan orang awam seperti saya, tentu saja harus rajin membaca agar memperoleh ilmu dan pengetahuan, kemudian mengolahnya lagi menjadi sebuah tulisan. Karena bagaimana pun membaca sudah barang tentu akan memberikan semacam inspirasi kepada seorang pembaca, apalagi seorang penulis. Membaca menjadi salah satu kegiatan yang dapat memicu daya cipta, menetaskan ide, dan menumbuhkan imajinasi pembaca itu sendiri.
Di titik ini kita harus benar-benar menyadari bahwa tidak ada kegiatan sia-sia dari membaca, dan seorang penulis yang membaca adalah sebuah keniscayaan yang sulit untuk dibantah. Tidak ada seorang penulis yang tidak membaca, pasti seorang penulis adalah seorang pembaca juga, dan seorang pembaca belum tentu ia adalah seorang penulis. Akan tetapi seorang pembaca memiliki potensi lebih besar menjadi seorang penulis, ketimbang seseorang yang tidak pernah membaca sama sekali dalam hidupnya.
Jadi kita harus benar-benar mematri perihal ini di dalam sanubari kita, bahwa kegiatan menulis pasti tidak akan pernah bisa dilepaskan dari kegiatan membaca, menulis adalah akumulasi dari keresahan-kerasahan batin yang dialami oleh seorang penulis, melihat keadaan di sekitarnya maupun masyarakatnya, lalu akumulasi dari pembacaan-pembacaan yang ia lakukan.
Entah itu membaca buku, membaca tanda, membaca masyarakat, maupun membaca alam. Hasil bacaan itu kemudian mengendap untuk kemudian dituliskan oleh mereka yang sudah mendaku diri sebagai seorang penulis. Karena penulis bagaimanapun juga adalah seseorang yang mengawali semangat menulisnya dengan membaca terlebih dahulu.
Saya selalu mengatakan dan menuliskan ini dalam setiap tulisan saya, bahwa seorang penulis itu pada mulanya adalah seorang pembaca. Saya haqqul yakin dengan hal ini, coba tanyakan saja kepada penulis-penulis terkenal maupun tak terkenal itu, tanyakan kepada mereka apakah mereka membaca?
Saya yakin 100 % pasti jawaban mereka sama; bahwa mereka membaca. Bahkan sangat mungkin sekali mereka adalah pembaca yang ulung dan setengah edan, bahkan bisa dikatakan gila. Karena bagi saya, seseorang belum bisa dikatakan sebagai seorang penulis, jika ia belum pernah melewati tahapan membaca; pembaca yang gila.







Leave a Comment