Sifat Iri Membunuh Sang Menteri

Harakatuna

14/08/2018

3
Min Read

On This Post

Alkisah tersebutlah seorang saleh yang sedang bertemu dengan seorang Raja. Ia masuk ke istana tanpa seizin perdana Menteri. Saat berdekatan dengan Raja. Ia memberi masukan dan saran kepada baginda Raja. Sehingga perdana Menteri menjadi terusik dengan kedatangan orang tak dikenal itu. Seketika tumbuhlah sifat iri dengki di hati sang menteri. Bisikan iri pun berhembus, ia bertekad akan menghabisinya jika tidak mau orang asing itu mengambil hati sang raja. Menteri merasa posisinya terancam dengan kedatangannya.

Selang beberapa hari, menteri berusaha menghasud sang Raja dengan menyampaikan hoax yang ia buat. “Raja, orang kemarin itu sering berbicara pada masyarakat bahwa paduka Raja mulutnya bau tidak sedap. Mengapa demikian, karena jika orang itu mendekatimu pasti ia akan menutupi hidung dan mulutnya agar tidak mencium bau mulut tak sedap”, kata sang Menteri pada sang Raja.

“Ya sudah, (pergi) sana. Saya akan menyelidikinya”, sahut sang Raja.

Menteri pun pergi. Ia langsung menuju rumah orang saleh itu untuk mengundang jamuan ke kediaman sang Menteri. Undangan pun dipenuhi oleh orang itu. Sang Menteri memasak hidangan yang dipenuhi dengan makanan-makanan yang baunya sangat kuat seperti bawang, jengkol, hingga durian. Saat menyantap makanan yang dihidangkan, Menteri berkata kepada tamunya, “Pak, hati-hati nanti kalau bapak bertemu sang Raja. Jangan sampai paduka Raja nanti mencium bau mulut bekas makanan yang anda makan. Itu sangat mengganggu beliau”.

Ketika orang saleh tadi pergi ke istana untuk menemui sang Raja seperti sebelumnya memberi masukan dan saran. Raja menyambutnya. “Silahkan ke sini Pak, mendekat”, kata sang Raja. Ia pun mendekati Raja untuk dengan meletakkan menutupi mulutnya dengan tangannya khawatir bau mulutnya mengganggu penciuman baginda Raja. Sang Raja pun berkata dalam hati, “Benar apa yang dikatakan perdana Menteri kemarin”.

Sebelum orang saleh itu meninggalkan istana, Raja menulis sebuah surat (memo) untuk diserahkan kepada salah satu gubernurnya. Perlu diketahui jika Raja menulis sendiri sebuah surat bisa dipastikan itu berisi memo atau hadiah. Surat yang berisi –“Jika datang orang yang membawa surat ini padamu, habisi dan bunuh dia”- dititipkan kepada orang saleh itu untuk kemudian diserahkan pada gubernur yang dimaksud oleh sang Raja.

Saat pergi, orang itu bertemu dengan sang Menteri di gerbang istana. Ia ditanya apa yang dia bawa. “Surat dari Raja”, jawab orang saleh itu. Berangkat dari rasa iri yang sudah sampai ke ubun-ubun, Menteri curiga surat yang dibawa oleh orang itu berupa hadiah dari sang Raja. Akhirnya Menteri menawarkan dua ribu Dinar kepada orang itu, agar ia tidak usah repot-repot mengantar surat sebagaimana perintah Raja. Tawaran Menteri pun diterimanya. Surat pun sekarang di tangan sang Menteri.

Lalu menteri pergi kepada Gubernur yang dimaksud oleh sang Raja untuk menyerahkan surat dari baginda Raja. Ketika surat diterima dan dibaca, Gubernur mengatakan “Surat ini memerintahku untuk membunuhmu wahai perdana Menteri”.
“Loh, surat (memo) itu bukan ditujukan untuk diriku. Hati-hati denganku, Aku akan melapor kepada sang Raja untuk mencabut surat (memo) ini”, kata sang Menteri.

Gubernur pun menjawab, “Surat (memo) Raja tidak bisa dibatalkan”. Akhirnya sang Menteri pun dibunuh sebab rasa iri dengki yang ia telah tanam dalam hatinya.

 

 

Leave a Comment

Related Post