PBB Nilai Taliban Lalai Tangani Terorisme, Afghanistan Disebut Sumber Ketidakamanan Kawasan

Ahmad Fairozi, M.Hum.

21/12/2025

2
Min Read

On This Post

Harakatuna.com. New York — Tim Pemantau Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengkritik kinerja pemerintahan sementara Taliban Afghanistan dalam upaya pemberantasan terorisme. Dalam laporan terbarunya, PBB memperingatkan bahwa Afghanistan masih menjadi salah satu sumber utama ketidakamanan regional.

Dalam laporan ke-16 yang diserahkan kepada Dewan Keamanan PBB, Tim Pemantau menilai klaim Taliban yang menyatakan bahwa wilayah Afghanistan tidak digunakan oleh kelompok teroris untuk melakukan kekerasan lintas batas sebagai pernyataan yang “tidak valid”.

“Penilaian kami menunjukkan bahwa klaim tersebut tidak didukung oleh fakta di lapangan,” demikian dikutip dari laporan Tim Pemantau Dewan Keamanan PBB.

Laporan ini dirilis di tengah meningkatnya ketegangan di wilayah perbatasan Afghanistan dan Pakistan. Kedua negara saling menuding terkait lemahnya pengelolaan keamanan perbatasan serta dugaan dukungan terhadap kelompok teroris.

Tim Pemantau PBB mencatat bahwa meskipun Taliban melakukan penindakan terhadap kelompok Islamic State (ISIS), sikap mereka terhadap kelompok teroris lainnya dinilai berbeda dan cenderung abai. Kelompok-kelompok tersebut antara lain Tehreek-e-Taliban Pakistan (TTP) dan Al-Qaeda.

Menurut laporan itu, sejumlah pengamat internasional telah mengonfirmasi keberadaan berkelanjutan kelompok teroris di Afghanistan. Bahkan, beberapa di antaranya diduga memanfaatkan wilayah Afghanistan sebagai basis untuk merencanakan dan melancarkan serangan lintas batas.

“TTP dinilai sebagai ancaman paling akut terhadap stabilitas regional dan diketahui menikmati dukungan kuat dari elemen-elemen tertentu dalam Taliban, termasuk keberadaan tempat perlindungan aman di wilayah Afghanistan,” tulis Tim Pemantau PBB dalam laporannya.

Penilaian tersebut memperkuat kekhawatiran Pakistan yang telah lama disampaikan. Dalam beberapa waktu terakhir, Islamabad bahkan memanggil perwakilan pemerintah Afghanistan serta melayangkan protes resmi menyusul insiden serangan lintas perbatasan.

PBB juga menyoroti dampak ekonomi dari meningkatnya ketegangan tersebut. Konflik perbatasan disebut telah menyebabkan kerugian ekonomi hingga jutaan dolar bagi Afghanistan. Lebih lanjut, laporan itu menegaskan bahwa meskipun Taliban telah berkuasa selama hampir empat tahun, komitmen mereka dalam Perjanjian Doha—khususnya untuk mencegah wilayah Afghanistan digunakan untuk mengancam negara lain—dinilai belum sepenuhnya terpenuhi.

“Situasi ini menunjukkan bahwa Afghanistan masih menjadi episentrum krisis keamanan di kawasan,” pungkas laporan Tim Pemantau Dewan Keamanan PBB.

Leave a Comment

Related Post