Judul: Terorisme di Indonesia: Dalam Tinjauan Psikologi, Penulis: Prof. Dr. Sarlito Wirawan Sarwono, Penerbit: Pustaka Alvabet, Kota terbit: Tangerang Selatan, Tahun Terbit: 2012, Tebal Buku: 192 halaman, ISBN: 6029193198, 9786029193190, Peresensi: Nabila Putri Yudhistira.
Harakatuna.com – Buku Terorisme di Indonesia: Dalam Tinjauan Psikologi karya Prof. Dr. Sarlito Wirawan Sarwono merupakan salah satu karya penting dalam khazanah kajian terorisme di Indonesia. Ketika isu radikalisme dan aksi teror mendominasi pemberitaan media massa, rapat-rapat pemerintah, dan ruang akademik dalam satu dekade terakhir, pendekatan untuk memahami fenomena ini kerap terjebak dalam ranah keamanan dan politik.
Penyebab tindakan ekstrem biasanya dijelaskan melalui jaringan ideologis, pendanaan, atau hubungan antar organisasi. Sarlito hadir untuk menantang kerangka tersebut. Ia mencoba membawa pembaca ke wilayah yang lebih intim: psikologi para pelaku. Bagi Sarlito, memahami terorisme tanpa memahami manusia yang menjalankannya akan selalu menghasilkan jawaban yang setengah matang.
Kajian dalam buku ini dibangun dari penelitian lapangan yang panjang, sejak 2006 hingga beberapa tahun setelahnya, saat ia menjadi penasihat lembaga negara seperti BNPT dan Polri. Kedudukannya membuat ia memiliki akses langsung untuk berinteraksi dengan para pelaku dan mantan narapidana terorisme, baik yang masih berada di balik jeruji maupun yang telah kembali ke masyarakat.
Di sinilah letak keistimewaan buku ini. Sarlito tidak sekadar mengutip literatur Barat atau laporan intelijen; ia berbincang, mengamati, dan berusaha memahami pergulatan batin individu yang pernah meyakini bahwa aksi bom bunuh diri adalah jalan kebenaran.
Narasi buku ini bergerak dengan ritme yang halus: penulis mengawali analisisnya dengan menggambarkan bagaimana terorisme menjadi topik sensasional di Indonesia, namun tetap menyisakan kekosongan pada ranah psikologis. Ia menyinggung kenyataan bahwa literatur Indonesia hampir tidak pernah membedah profil pelaku teror dari sisi kondisi mental, kepribadian, dan relasi sosialnya, padahal perilaku ekstrem tidak lahir dari ruang hampa.
Dengan sudut pandang psikologi sosial, Sarlito membongkar mekanisme psikologis yang menyelimuti proses radikalisasi: mulai dari kebutuhan akan pengakuan, kerinduan akan tujuan hidup, pengalaman traumatis, hingga keinginan untuk menjadi bagian dari komunitas yang dianggap ideal.
Kekuatan utama buku ini terletak pada cara penulis menyusun potret pelaku teror sebagai figur manusia, bukan sekadar objek kriminal. Ia mengajak pembaca melihat bagaimana seseorang yang tampak biasa, yakni berkeluarga, bekerja, dan bergaul dengan masyarakat, perlahan terseret dalam doktrin yang membenarkan kekerasan.
Sarlito menempatkan agama dan ideologi bukan sebagai satu-satunya penyebab, melainkan sebagai medium yang memberikan legitimasi psikologis atas kebutuhan dan konflik internal pelaku. Dalam analisisnya, tindakan teror dapat muncul ketika faktor internal seperti agresivitas atau frustrasi sosial bertemu dengan kesempatan ideologis dan jaringan sosial tertentu.
Sebagai psikolog sosial yang lama mengkaji aksi massa dan konflik komunal di Ambon, Maluku Utara, serta Jakarta pasca kerusuhan 1998, Sarlito memahami betul bagaimana tekanan kolektif mampu mengubah perilaku individual.
Buku ini menjelaskan bagaimana proses pencucian otak tidaklah sesederhana menanamkan doktrin, melainkan melibatkan hubungan emosional, kepatuhan kelompok, dan mekanisme pembentukan makna atas penderitaan pribadi. Pemahaman semacam ini menjadi pijakan bagi pendekatan deradikalisasi yang lebih manusiawi: bukan hanya menindak, tetapi menyembuhkan perspektif dan orientasi psikologis para pelaku.
Walaupun demikian, buku ini tidak terlepas dari keterbatasan. Fokus analisisnya lebih banyak tertuju pada pelaku terorisme berbasis ideologi Islam radikal yang memang mendominasi lanskap kekerasan ekstrem di Indonesia. Sampel wawancara yang relatif terbatas juga membuat pembaca mungkin bertanya sejauh mana temuan-temuan ini dapat digeneralisasikan pada seluruh pelaku teror.
Posisi penulis yang memiliki kedekatan dengan institusi negara juga berpotensi memunculkan pertanyaan kritis tentang bias perspektif. Akan tetapi, keterbatasan tersebut tidak mengurangi nilai luhur buku ini sebagai dokumentasi empiris yang jarang ditemukan dalam literatur lokal.
Gaya penulisan buku ini bersahaja namun padat substansi. Dengan bahasa ilmiah yang mudah dipahami, pembaca diajak memasuki dunia psikologis yang jarang terjamah dalam diskursus keamanan. Buku ini bukan hanya menyajikan pengetahuan, tetapi mengundang perenungan: bahwa pelaku teror bukanlah sosok monster tanpa perasaan, melainkan manusia yang tersesat dalam proses pembentukan keyakinan dan identitas.
Pesan moral yang tersirat adalah bahwa upaya memutus rantai terorisme tidak cukup melalui penindakan represif, melainkan memerlukan pendekatan psikologis, sosial, dan kultural yang lebih komprehensif.
Pada akhirnya, Terorisme di Indonesia: Dalam Tinjauan Psikologi menjadi karya monumental yang memperkaya khazanah studi terorisme di Indonesia. Melalui pengalaman empirisnya bertemu para pelaku teror, Sarlito berhasil menunjukkan sisi manusia di balik tindak kekerasan ekstrem, membuka ruang dialog baru tentang bagaimana memahami dan menangani radikalisme secara lebih efektif.
Buku ini layak dibaca oleh akademisi, praktisi keamanan, psikolog, mahasiswa, dan masyarakat luas yang ingin melihat fenomena terorisme dari perspektif yang lebih dalam dan reflektif. Buku ini bukan sekadar bacaan ilmiah, tetapi ajakan untuk memahami bahwa akar terorisme yang bersemayam di ruang batin para teroris harus diurai, bukan ditutup dengan stigma yang akan semakin memperburuk aspek psikologis mereka.








Leave a Comment