AI dan Jalan Terjal Literasi Indonesia

Muhamad Firdaus S, Ag.

20/12/2025

4
Min Read
literasi

On This Post

Harakatuna.com – Indonesia sering dipuji sebagai bangsa besar dengan keberagaman budaya, jumlah penduduk yang masif, dan kekayaan sumber daya yang tak sedikit. Namun di balik narasi optimisme itu tersembunyi persoalan mendasar yang belum terselesaikan sejak lama: rendahnya literasi masyarakat.

Sejumlah survei internasional menunjukkan minat membaca dan kemampuan literasi fungsional masyarakat Indonesia masih tertinggal dibanding banyak negara lain. Data UNESCO yang kerap dikutip menempatkan Indonesia di peringkat kedua terbawah dalam hal literasi. Meski metodologinya bisa diperdebatkan, temuan tersebut tetap menjadi alarm keras bagi dunia pendidikan kita.

Tantangan literasi semakin rumit dengan hadirnya teknologi kecerdasan buatan dan layanan digital seperti ChatGPT. Teknologi yang dapat menghasilkan teks dalam hitungan detik ini memberi kemudahan yang belum pernah ada sebelumnya. Cukup mengetik perintah sederhana, mesin mampu menyusun ringkasan buku, makalah, atau bahkan skripsi.

Di titik ini, pertanyaan yang muncul menjadi penting: apakah AI akan menjadi jalan pintas yang justru memperburuk rendahnya literasi Indonesia, atau ia dapat dimanfaatkan sebagai alat bantu untuk meningkatkan minat baca dan menulis?

Di satu sisi, kemudahan yang ditawarkan AI memang menggoda. Seorang mahasiswa mungkin tidak lagi merasa perlu membaca buku referensi ratusan halaman untuk menyelesaikan tugas kuliah. Ia cukup meminta sistem menuliskan esai atau resume bab demi bab.

Pekerja kantoran dapat membuat laporan, proposal, atau surat resmi hanya dengan beberapa kali klik. Efisiensi menjadi alasan utama, namun secara perlahan proses berpikir tereduksi menjadi aktivitas instan. Keakraban kita dengan proses membaca, memilah informasi, dan menyusun argumen perlahan digantikan oleh mesin yang bekerja secara otomatis.

Risiko jangka panjangnya tidak sepele. Jika proses belajar dipangkas menjadi sekadar meng-copy keluaran AI, kemampuan berpikir kritis dan kreativitas akan tumpul. Masyarakat berpotensi menjadi konsumen pasif dari teks-teks siap pakai ketimbang produsen pengetahuan yang aktif. Di sinilah persoalan literasi semakin dalam: bukan hanya rendahnya minat baca, tetapi terputusnya hubungan antara membaca, memahami, hingga melahirkan gagasan baru. AI dalam konteks ini dapat menjadi cermin kemalasan intelektual yang tak disadari.

Namun demikian, menyalahkan teknologi secara sepihak juga sebuah sikap yang tergesa. AI justru dapat menjadi peluang untuk mengakselerasi peningkatan literasi, terutama bagi mereka yang sulit mengakses bahan bacaan berkualitas atau tidak terbiasa membaca teks panjang.

Chatbot dapat menjadi teman diskusi yang membantu menjelaskan materi rumit dalam bahasa yang lebih sederhana. AI dapat mengidentifikasi minat pengguna dan memberikan rekomendasi bacaan yang relevan. Dengan begitu, akses dan motivasi membaca justru dapat meningkat. Banyak orang memulai dari ringkasan, kemudian terdorong untuk membaca sumber aslinya.

Pada titik ini, persoalan bukan pada teknologinya, tetapi bagaimana kita menggunakannya. AI tidak semestinya menjadi jalan pintas untuk menghindari proses belajar. Ia bisa menjadi alat pendamping yang memperkaya proses berpikir. Peran pendidik menjadi sangat penting: guru dan dosen perlu merancang tugas belajar yang mendorong siswa mengkritisi keluaran AI, membandingkan informasi, dan mendiskusikan argumen yang berbeda. Dengan demikian, teknologi dimanfaatkan bukan untuk menggantikan proses berpikir, tetapi sebagai pemantik terhadap proses itu sendiri.

Peran keluarga dan pemerintah juga tidak dapat diabaikan. Literasi harus ditanamkan sejak usia dini melalui kebiasaan membaca bersama, penyediaan buku yang menarik minat, serta lingkungan yang merangsang rasa ingin tahu. Pemerintah perlu memperbanyak fasilitas perpustakaan yang nyaman dan mudah dijangkau, terutama di daerah yang jauh dari pusat kota.

Kampanye gerakan literasi pun harus menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman: memanfaatkan media sosial, podcast, video pendek, maupun influencer agar pesan literasi relevan dengan ekosistem digital generasi muda.

Hari ini, literasi tidak bisa lagi dipahami secara sempit sebagai kemampuan membaca dan menulis teks. Literasi digital adalah tuntutan baru. Demikian pula literasi data dan literasi kritis, yang menjadi bekal penting agar masyarakat tidak mudah tersesat oleh banjir informasi, termasuk konten yang dihasilkan AI. Tanpa kemampuan kritis, teknologi justru mempercepat penyebaran hoaks dan memperdalam polarisasi sosial.

Pada akhirnya, AI dan ChatGPT bukanlah lawan dari literasi, tetapi juga bukan penyelamat instan. Teknologi ini hanyalah alat yang bisa menjadi jembatan atau jurang, tergantung bagaimana kita memanfaatkannya. Literasi tetap membutuhkan kemauan, disiplin, dan kebiasaan berpikir reflektif yang tidak bisa digantikan mesin.

Dengan semangat itu, literasi harus kita maknai sebagai kemampuan membaca zaman. AI hanyalah salah satu bab dalam perjalanan tersebut. Yang menentukan arah akhirnya tetap manusia: apakah memilih menjadi pembaca pasif yang tunduk pada mesin, atau produsen pengetahuan yang memanfaatkan teknologi untuk memperkuat tradisi berpikir.

Wallahu a’lam bishawab.

Leave a Comment

Related Post