Dakwah di Era Algoritma: Ketika “Viral” jadi Kiblat Baru Menggeser Kebenaran

Roh Widiono

22/12/2025

4
Min Read
Dakwah

On This Post

Harakatuna.com – Pada suatu malam di akhir pekan, Ahmad, pegawai swasta di Jakarta, menghabiskan waktu senggangnya dengan membuka TikTok. Ia berniat mencari hiburan sebelum tidur. Namun tanpa sadar, video dakwah bernada provokatif memenuhi linimasanya. Dalam hitungan menit, emosinya terbakar. Ia mengetik komentar pedas kepada pengguna lain yang berbeda pandangan soal hukum zikir berjamaah.

Malam itu, Ahmad tidak sedang belajar agama. Ia menjadi bagian dari siklus kecemasan digital yang diproduksi mesin.

Fenomena seperti ini berulang di seluruh Indonesia. Kita hidup di masa dimana dakwah begitu mudah diakses. Ribuan konten ceramah hadir setiap detik, dari masjid hingga ruang tamu virtual. Secara teoretis, kondisi ini mestinya membangun generasi muslim yang tercerahkan. Namun realitas digital memperlihatkan paradoks: akses luas tidak melahirkan kedalaman spiritual, melainkan kebingungan dan pertikaian.

Pertanyaannya: mengapa dakwah digital justru memproduksi keterpecahan sosial? Media sosial hari ini bekerja bukan sebagai ruang publik yang netral, melainkan mesin bisnis berbasis iklan. Semakin lama pengguna bertahan, semakin besar keuntungan yang diperoleh platform. Karena itu, algoritma didesain untuk memaksimalkan engagement: komentar, share, dan waktu tonton.

Di titik ini, dakwah hanyalah konten. Kebenaran agama direduksi menjadi komoditas digital yang harus bersaing dengan konten hiburan, gosip selebriti, dan tantangan joget viral.

Masalahnya, psikologi digital menunjukkan bahwa jenis emosi yang paling efektif menahan perhatian manusia adalah kemarahan dan kebencian. Ceramah damai, reflektif, dan penuh hikmah tenggelam karena dianggap membosankan. Sebaliknya, konten dakwah bernada keras, penuh label “sesat”, “bid’ah”, atau “kafir”, justru ditendang naik oleh algoritma karena memicu debat di kolom komentar.

Di sini terjadi pergeseran otoritas: bukan kebenaran yang menentukan penyebaran konten dakwah, tetapi sensasi dan provokasi. Ustaz yang viral dianggap lebih otoritatif dibanding ulama bersanad yang bertahun-tahun mengajar fikih di pesantren dan minim jejak digital. Pengetahuan agama terseret oleh logika pasar perhatian.

Echo Chamber: Ketika Mesin Menutup Ruang Tafsir

Dampak teknis dari algoritma lain yang luput disadari adalah pembentukan echo chamber. Begitu seseorang menonton satu video dakwah tertentu, platform akan menyuguhkan konten serupa berulang kali tanpa alternatif.

Lingkungan digital akhirnya dipenuhi satu suara: satu mazhab, satu pendekatan fikih, satu bentuk keberagamaan yang dianggap paling benar. Perdebatan teologis klasik seperti qunut, maulid, atau tahlilan yang dahulu disikapi moderat kini berubah menjadi perseteruan sengit di ruang digital.

Di dunia nyata, seseorang mungkin hidup berdampingan dengan tetangga berbeda praktik ibadah. Namun di media sosial, ia “dipaksa percaya” bahwa ajaran selain kelompoknya adalah ancaman. Pola pikir hitam-putih tumbuh subur, mengikis adab keilmuan.

Mesin algoritma telah mengintervensi kesadaran keagamaan: bukan lagi ulama atau guru yang mendidik pemahaman umat, melainkan rekomendasi otomatis berdasarkan pola klik.

Dalam tradisi keilmuan Islam, kredibilitas ulama ditentukan oleh sanad, yakni rangkaian transmisi ilmu dari guru ke murid yang jelas dan bertanggung jawab. Ini mekanisme penjamin keotentikan pengetahuan agama.

Namun dalam ruang digital, sanad digantikan statistik: jumlah subscriber, like, dan share. Pujian dan cacian warganet menjadi tolok ukur kebenaran baru.

Perubahan ini memunculkan fenomena baru:

  1. Dai mengejar konten viral demi adsense
  2. Judul dirancang provokatif agar memancing klik
  3. Perbedaan mazhab dibingkai sebagai konflik identitas
  4. Ilmu agama direduksi menjadi potongan retorika emosional

Dakwah perlahan bergeser dari ibadah menuju industri konten. Ketika klaim kebenaran dijual dalam format clickbait, agama menjadi konsumsi instan. Ia tidak lagi menuntut kedalaman, kesabaran, dan pencarian ilmu, tetapi cukup scroll dan swipe.

Perubahan teknis ini membawa dampak sosial keagamaan:

  • umat makin reaktif, bukan reflektif
  • marah lebih cepat daripada tabayyun
  • solidaritas melemah, syak wasangka meningkat
  • ruang dialog antarmazhab menyempit

Gejala ini tercermin dalam meningkatnya kasus persekusi digital terhadap tokoh agama, penyerangan masjid karena perbedaan cara ibadah, hingga polarisasi politik identitas bernuansa agama.

Ruang dakwah yang semestinya memanusiakan manusia justru menjadi ruang yang mendewakan opini dan sentimen. Kita menjadi umat yang terseret oleh algoritma, bukan dipandu oleh hikmah.

Melampaui Algoritma Manusia

Solusi radikal tentu bukan menolak teknologi. Dakwah digital tidak bisa dihindari. Namun umat perlu membangun literasi digital keagamaan untuk memahami bahwa platform bukan ruang netral. Ada kepentingan ekonomi yang bekerja, algoritma yang selektif, dan bias teknis yang membentuk persepsi.

Bagi para dai, sudah saatnya membebaskan dakwah dari jebakan kapitalisasi konten. Jangan sampai amalan menjadi transaksi perhatian. Judul memecah belah demi trending hanya akan menyisakan dosa jariyah yang tak terhapus oleh waktu.

Bagi jamaah digital, tabayyun digital harus menjadi sikap dasar: cek sanad keilmuan, telaah konteks, pahami perbedaan. Islam terlalu luas untuk diringkus dalam video pendek.

Pada akhirnya, umat perlu kembali ke “algoritma langit”. Bukan algoritma yang menghitung klik dan komentar, melainkan algoritma ketulusan, hikmah, dan kebenaran. Viral tidak menjamin ridha Tuhan.

Di hadapan Allah kelak, jumlah viewers tidak ditanya. Yang ditimbang adalah sejauh apa dakwah menumbuhkan kemaslahatan dan menjaga kemanusiaan.

Di tengah derasnya arus informasi digital, mungkin inilah saatnya mengembalikan dakwah dari logika pasar menuju logika akhlak. Bukan mengejar viral, tetapi menghidupkan kembali cahaya ilmu, meski hanya setitik, dan meski tenggelam di bawah algoritma.

Leave a Comment

Related Post