1 Syawal Sedang OTW Menuju Indonesia

Ayik Heriansyah

30/03/2025

3
Min Read
Syawal

On This Post

Harakatuna.com – Perbedaan penetapan hari raya Idulfitri bukanlah hal baru di Indonesia. Tahun 2025 kembali memperlihatkan perbedaan antara keputusan Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag RI) dan ormas terlarang Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dalam menentukan 1 Syawal.

Kemenag RI telah menetapkan Idulfitri jatuh pada 31 Maret 2025, sementara HTI menggelar lebaran sehari lebih awal, yakni pada 30 Maret 2025. HTI menganut paham rukyat global, yang berarti bahwa 1 Syawal berlaku untuk seluruh dunia, di mana pun hilal terlihat.

Dalam Islam, 1 Syawal ditentukan berdasarkan rukyatul hilal (pengamatan bulan sabit pertama) atau hisab (perhitungan falakiyah). Perbedaan metodologi tersebut jadi penyebab utama ketidaksepakatan dalam penetapan hari raya.

HTI berpegang pada metode pengamatan hilal di Arab Saudi, yang mengumumkan terlihatnya hilal pada 29 Maret 2025. Konsekuensinya, HTI menganggap bahwa 1 Syawal sudah dimulai pada 30 Maret 2025 di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Namun, pendekatan itu menimbulkan problematika kefalakan.

Secara astronomis, bumi berbentuk bulat dan berotasi dari barat ke timur. Artinya, jika hilal pertama kali terlihat di Arab Saudi, maka wilayah yang berada di timur—seperti Indonesia—seharusnya melihat hilal lebih awal atau paling tidak pada waktu yang sama dalam konteks waktu lokal.

Namun, dalam kenyataannya, hilal tidak selalu dapat terlihat di semua tempat pada waktu yang sama karena perbedaan zona waktu, posisi bulan terhadap matahari, serta faktor atmosfer yang memengaruhi visibilitas hilal.

Hilal yang pertama kali terlihat di Arab Saudi tidak serta-merta berarti bahwa 1 Syawal langsung berlaku secara global. Menurut sistem kalender Islam yang berbasis rukyat, setiap wilayah memiliki otoritas sendiri dalam menentukan awal bulan baru berdasarkan pengamatan hilal di wilayahnya masing-masing.

Dengan kata lain, meskipun hilal sudah terlihat di Arab Saudi, Indonesia tetap harus melakukan rukyat sendiri atau mengacu pada hasil hisab untuk menetapkan kapan 1 Syawal dimulai.

Tahun 2025, hisab yang dilakukan oleh otoritas falakiyah Indonesia menunjukkan bahwa hilal belum cukup tinggi untuk terlihat pada 29 Maret 2025. Oleh karena itu, Kemenag RI menetapkan bahwa bulan Ramadan digenapkan menjadi 30 hari (istikmal), sehingga 1 Syawal jatuh pada 31 Maret 2025.

Analisis ini juga selaras dengan kaidah fiqih yang dianut mayoritas ulama, yaitu bahwa penetapan awal bulan dalam kalender Hijriah bersifat lokal dan tidak harus mengikuti pengamatan di negara lain, terutama yang berbeda garis bujur secara signifikan.

Intinya, rotasi bumi menciptakan perbedaan waktu dalam penetapan awal bulan Syawal. Namun, secara ilmiah, penentuan awal bulan tidak hanya bergantung pada pergerakan bumi semata, tetapi juga pada faktor visibilitas hilal dan keputusan otoritas keagamaan setempat.

Perbedaan penetapan Idulfitri tidak boleh jadi sumber perpecahan di tengah umat Islam. Indonesia memiliki mekanisme resmi dalam menetapkan awal bulan Hijriah melalui sidang isbat Kemenag RI. Keputusan pemerintah dalam penentuan Idulfitri seyogianya jadi pedoman umat Islam di Indonesia dalam menjalankan ibadah. Kepada syabab HT di Indonesia dimohon bersabar, 1 Syawal sedang OTW menuju Indonesia.

Leave a Comment

Related Post